Take it or......take it!
Tulisan ini saya buat karena makin boomingnya siswa-siswa yang ngakunya pengen belajar di Jerman atau semacamnya namun masih belum siap secara mental.
Nahhh belum lagi soal mindset yang aneh-aneh soal Au-Pair.
Oke gini,Sejauh pengalaman saya tinggal di Jerman taun lalu,banyak bgt orang indo yang rombongan dateng dengan niat studi. itu bagus! ya bagus! kalau mereka siap secara mental dan siap menerima keterbatasan idup di negara orang yang nyatanya ga seindah di photo".Pengalaman dan cerita temen-temen ini yang akhirnya juga merubah kacamata pribadi saya.
Nyatanya,di Jerman sendiri Au-Pair adalah hal yang lumrah,saya sendiri bertemu dengan lebih dari empat orang Jerman yang ngakunya pernah Au-Pair di Amerika,Prancis dan sebagainya.
Kehidupan Au-Pair memang tergantung dari Gast Familie-nya.Tapi jangan khawatir kalo memang si Au-Pairnya sendiri ga cocok kputusan buat cari keluarga baru bisa diambil sesuai kata hati.
Di Indo sendiri lagi booming Au-Pair itu babysitter,pembantu,dll saya sendiri ga mau judge,tapi kan lucu kalo di bilang begitu justru kehidupan mereka jauh lebih layak dibanding yang ngakunya mau studi.Mata saya hanya terbelalak aja liat realita yang ada,emang dasarnya dari mental udah beda.
Namun nyatana banyak pengalaman yang didapat yang katanya cuman jadi 'Au-Pair' doang.
Oke disini saya cuma mau ngajak temen-temen buat liat realita,egal,terserah mau studi keke,aupair kek,pertukaran pelajar kek,semuanya pasti ada kelebihan dan kekurangannya,yang bikin beda dari sisi mana temen-temen liatnya,yang jelas sesuai dengan kapasitas(otak plus duit,pake euro men,yang biasa naik mobil pribadi hrs siap ngejar" kereta demi "nasib" plus ngehindarin efek domino,yang biasanya ada si mbak yang rapiin kamar n nyuci sibuk ngurus kperluan lo,disini lo harus ngurus smuanya sendiri termasuk dokumen yang kmana mana harus pake bahasa asing).Temen-temen harus tau tujuan kenapa ksini,apa yang mau dicapai dari hidup lo n kudu siap sama semua konsekwensinya.Bukannya mau nakutin,tapi ini hidup pilihannya berjuang atau pasrah!
Enaknya jadi Au-Pair saat temen-temen ga perlu mikirin asuransi yang notabene udah jelas ditanggung gast familie,ga perlu tiap bulan sibuk cari wohnung,apa lagi demi perpanjang visa,ga perlu mikir makan sehari-hari,yang jelas sepanjang hari temen-temen bner" liat n terjun gimana orang-orang asing ini berpikir dari pola hidup yang mereka jalanin,ngomong bahasa alien plus ga jarang si gast familie mau bayarin sekolah bahasa ampe lulus(tergantung ksepakatan).
Ditulisan ini saya mau ngajak temen-temen untuk mikir positif n tau diri,dari pada demi gengsi ngabisin uang banyak padahal masih beberapa bulan tinggal disini,kan sayang.....
Wlo sebenarnya balik ke diri masing-masing,tapi kalo niatnya cari pengalaman plus pengen adaptasi dulu(biar ga kaget),nabbung atau sekedar jalan-jalan,saya setuju dengan Au-Pair adalah langkah awal yang bijaksana untuk pertama kali nginjek tanah asing ini.
Supaya ngindar dari gonjang ganjing berita di Indo,disini saya mau bagi-bagi link n sekedar share ttg yang minat mau Au-Pair ke Jerman,ditanganin langsung ama orang Jermannya,ga usah takut buat tanya n bkal bneran di urusin,ga perlu bayar pula ttg servicenya,tinggal siapin bahasa,tiket,persyaratan visa(keperluan pribadi)..... http://www.aupair-agentur-wilhelm.de/
Saya hanya ingin berbagi,karena pengalaman pribadi saya ngajarin untuk jangan ada yang lain lagi setelah kejadian yang saya dan teman-teman saya alami beberapa tahun yang lalu,yang salah bukan pihak ABCDnya,namun sebagai konsumen,akan lebih baik teliti dan bijak dalam bertindak dan mengambil keputusan,jangan ngotot ke puncak kalo kapasitasnya masih harus perlu belajar mendaki,semangat!
Buat yang udah mantep studi,selamat berjuang! :)
Sampai ketemu di cerita selanjutnya...
Montag, 7. Dezember 2015
Donnerstag, 29. Oktober 2015
Disini
Saat semuanya kembali pada langkah di titik pertama
Menapaki Jalan baru seraya menyapa hari baru
Melewati apa yang pernah tertuai dalam mimpi
Namun tidak saat takdir membawanya di fase baru
Kini langkah-langkah kecil ini menjajaki kota ini
Negara dan kota yang tak lagi jadi sebuah mimpi
Menghantarkannya lagi pada orang-orang baru
Memang tak ada lagi senyum khas darinya setiap pagi sepertihalnya dulu
Tak ada lagi perbincangan dan tawa khas yang selalu menjadi bagian dari hari lalu
Disini serpertihalnya sebuah dunia baru
Masih murni
Kembali pada apa yang disebut dengan perjuangan menghadapi hari
TakdirNya yang menghantarkan hari baru
Menikmati tinggi dan khasnya bangunan klasik dan untaian musik
Cerita ini terus mengalir melalui alur demi alur,sampai dititik ini.....
Dunia membuktikan betapa indahnya perbedaan semejak ku bertemu denganmu
Dunia membuktikan betapa lantangnya bersuara namun berbeda ketika bersua dengannya
Dunia membuktikan betapa kerasnya menjaga apa yang seharusnya dipertahankan hingga waktunya tiba
Bagaimana diri kita mencerminkan siapa kita
Jika memang cinta sesungguhnya ada,mengapa janji itu hanya dianggap sebuah asa
Freitag, 25. September 2015
Dear Senasib
Menjadi bagian dari mereka adalah anugrah yang tak ternilai
Sudah menjadi jalannya bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka
Hari itu hari pertama kalinya ku masuk ditengah-tengah mereka
Mereka yang memiliki cita-cita tinggi akan hidupnya
Diusia kami yang terbilang labil,kami berani mengambil sikap
Hingga tanpa sadar dari sini lah perjalanan realita hidup dimulai
Dari mereka saya bukan hanya mendapatkan apa itu ikatan persahabatan,keluarga atau apalah itu namanya
Perbedaan bukan berarti tak kita miliki
Celetukan nakal bukan berarti pla tak pernah ada dalam hubungan kami
Tawa canda hingga air mata sungguh akrab dengan cerita kami
Bersama mereka sesuatu yang asingpun tak pernah terasa asing selama kita berkeinginan untuk belajar
Menghabiskan waktu bersama hanya untuk saling bercengkrama menjadi bagian dari perjalanan kami
Ujian itupun bahkan menghantarkan kami pada ujian hidup
Belajar yang kala itu hanya sebagai kebutuhan kini mengubah kami menjadi orang-orang yang memiliki pandangan hidup lain dari biasanya
Dari mereka saya mendapatkan artian dari hidup
Saat berjalan hanya menjadi satu-satunya pilihan,namun kemana kami kan di bawanya?
Saat kebersamaan pecah karena keadaan yang tak dapat kami salahkan
Hanya menyadari ini keputusan pada awalnya
Saat cita-cita dan harapan berproses
Saat mimpi tak seperti yang pernah kami bayangkan
Saat merangkak dan tertitih demi masa depan
Melalui ini kami belajar memaknai
Saat uang tak dapat lagi membeli mimpi
Saat tahta tak bisa lagi menjadi jaminan mimpi
Ini tentang kita,5tahun sudah melaui komitmen dan berproses setiap langkahnya hingga jarak bahkan waktu memisahkan
Kami belajar bahwa masa depan bukan hanya tentang apa yang sudah kami bayar
Bukan sudah berapa uang yang kita punya dan kita gunakan
Bukan lagi tentang terbuangnya waktu yang kadang terasa sia-sia
Bersama dengan adanya ini,kami belajar apa itu menerima,berjuang dan percaya tak kan ada setitik celahpun yang menjadi tak berguna saat kami bersyukur
Ada banyak hal yang lebih mahal dari ini semua
Saat Tuhan mempertemukan sebagai keluarga 5 tahun lalu
Melalui mereka Pintu kehidupan akan realita semakin nyata
Bertahan dan berjuang dalam kerasnya hidup
Bersabar dan menerima dalam harapan yang sampai saat ini masih menjadi bagian hati
Merangkak menggapai asa tanpa melupakan
Berproses,,,ya berproses.........
Dienstag, 22. September 2015
Geschenk von Gott
Seraya kembali akan pena yang menuliskan kembali ceritanya
Halnya balada seorang aku yang kembali melanjutkan ceritanya
Berjuang menapaki alurnya
Hingga kebahagiaan sesungguhnya datang
Ditengah keluarga asing mencoba bertahan meraba kejadiannya
Cerita yang kutuliskan ini lagi lagi membuktikan dasyatnya kuasaNya, mulai dari kebingungan jungkir balik masalah klasik anak perantauan di negeri asing,apalagi kalau bukan visa!
Halnya balada seorang aku yang kembali melanjutkan ceritanya
Berjuang menapaki alurnya
Hingga kebahagiaan sesungguhnya datang
Ditengah keluarga asing mencoba bertahan meraba kejadiannya
Cerita yang kutuliskan ini lagi lagi membuktikan dasyatnya kuasaNya, mulai dari kebingungan jungkir balik masalah klasik anak perantauan di negeri asing,apalagi kalau bukan visa!
hhiiiaaah ini juga yang terjadi dengan saya,mulai dari jungkir balik di Bahnhof Balingen,jejeluntungan ke Stuttgart,ngacrit ke Heidelberg ampe di jabanin ama salah satu temen senasib di Karlsruhe plus sempet nginep semalemen karena ga siap buat balik ke Haigerloch!
Mulai persyaratan Anmeldung Bestaetigung ampe suru nulis Nachwiesenlebenunterhalt ampe harus bolak balik geupeur bgt rasanya.Akhirnya kejadian ini semua memutuskan saya untuk kembali melanjutkan yang sempat tertunda,ya!back to Austria!
Mau gamau ini semua bikin pikiran saya buat prepare ongkos dll bahkan kemungkinan terburuk
( semoga engga ya Allah :"( )
Pagi ini saya bergegas berkunjung ke rumah Fadimeabla,salah satu kenalan saya di Jerman asal turki. Niatnya cuma untuk sedikit refresh aja,mulai diajak sarapan bareng ampe ngobrol cerita-cerita,ampe ternyata abla(saudara perempuan turki) ngerasa ada yang ga biasa,akhirnya saya ceritakan semua apa yang menjadi masalah saya,ga mau kalah,Chasanamzah juga ikut nimbrung,melihat tatapan mereka mata saya menjadi berkaca-kaca,tatapan Chasanamzah seakan mengerti apa yang menjadi masalah anak-anak rantau seperti saya ini,ia memeluk erat,ingat sekali waktu dia berkata,"kemanapun kamu pergi,dimanapun kamu,dari dulu saya sudah bilang datang kemari,kamu anak kami juga,saya antar kamu ke Wina atau nanti saya carikan tiketnya".Pelukannya semakin menenangkan dan sedikit membuat lelucon untuk saya,Fadimeabla yang seakan tau gimana schock n beratnya ini untuk saya mengingat perjuangannya yang tidak lama tersenyum mengerutkan tangan saya sembari berdoa menyelipkan uang 50euro,tatapan itu hanya bisa ku balas dengan senyuman dan disambung dengan pelukannya yang erat.Kami menghabiskan waktu bersama di meja makan hingga salah satu teman Fadimeabla mengundangnya untuk datang dan menghibur temannya yang juga asal Turki yang kebetulan baru-baru ini Ibundanya wafat,tak pikir panjang Fadimeabla mengajak saya untuk bertemu dengan teman-teman Turki yang tinggal di Jerman.Sesampainya disana ucapan salam dan pelukan hangat datang dari mereka,bahagia terpancar dari raut wajah Fatma,ya sudah lama memang kami tak bertemu,begitu mendengar kabar saya,Fatma langsung mengundang saya minum teh dirumahnya minggu depan waktu saya libur.Ketika itu,seseorang mengahmpiri saya untuk memakaikan jilbab,jujur kaget! saya yang datang sengan minidress plus bigstocking plus sepatu musim gugur,tiba-tiba dipakaikan jilbab,spontan saya hanya bisa mringis-mringis (sumpah ga paham banget,pikir saya mungkin karena saya disitu yang satu-satunya tidak berjilbab),ga lama dari itu,yang lainnya memberikan saya sebuah Al-Qur'an,Fatma merangkul saya dan berkata "bacakan Yasin untuk ibu yang sudah Wafat,pimpin kami membaca ya,nak...." saat itu juga hati saya semakin gemetar,diantara perempuan-perempuan cantik ini,mereka menunjuk saya membacanya,Pikiran saya langsung melayang pada salah satu film yang diangkat dari cerita Hanum rais (99cahaya dilangit Eropa),kebersamaan ini tak kan pernah saya lupakan walau hanya tinggal beberapa minggu lagi saya meninggalkan kota indah ini :"
Setelah membaca hingga selesai,ku tatap mata mereka satu persatu yang berkaca-kaca bahkan menangis,ya.Ditempat ini saya justru tak pernah merasa asing atau dibeda-bedakan,bertemu dengan orang-orang luar biasa dari berbagai belahan dunia.
Tak sampai situ,sepulangnya saya kembali ke rumah Fadimeabla,saya sempatkan mampir ke salah satu restorant kebab yang mulai dari saya menginjakkan kaki disini,beliau selalu ngotot agar saya tidak membayar makanan apapun yang saya pesan,ingat? cerita awal ketika saya mencari Masjid dan mampir di resto ini?ya.semua berawal dari situ,kini sudah beberapa bulan berlalu,bahkan berjalan menapaki Tahun.
Kali ini kami berbincang hangat,dimulai rasa penasaran Basutamzah dan juga istrinya karena hari itu saya tidak memesan apa-apa,teh khas Turki menemani perbincangan kami,jujur kali itu saya membawa ratusan uang 10cent dan 20cent yang niatnya akan saya tukar ke Bank,iseng-iseng tanya,ternyata orang yang akrab saya angaap paman ini,tersenyum dan berkata "ya,sini mana sini" kami menghitung bersama,namun koin yang saya bawa tak sampai 50euro,saat saya bercanda dan mulai lalai dengan keseriusan kami,Basutamzah menyelipkan 50euro kedalam kotak tempat koin saya,serentak saya menolak dengan berbagai cara karena jumlah uang yang saya tukarkan tidak sebesar itu,beliau tersenyum dan menjawab "bukan jumlahnya,namun nilainya,liat.liat perjuanganmu nak,kalau nanti kamu menemukan orang baik yang sepertimu,bantu anak itu,lakukan yang baik" mendengar omongannya saya hanya bisa tertegun,saat itu juga abla menghibur saya untuk memanggil suaminya abi(kakak laki-laki dalam bahasa Turki),mereka berbincang dalam bahasa Turki,jujur saya ga paham sama sekali,saat itu abla memeluk erat menatap dalam.Saya hanya bisa memasrakan tubuh ini yang nyatanya saya tidak sendiri,kami bercerita tentang indahnya negara kami,begitu kayanya negara kami,beliau juga paham tak mudah bagi orang indonesia bisa menginjakkan kaki di Jerman,dengan nada bercanda abla menggoda "liat,badan kecil,tapi disini (*nunjuk hati)harus besar,harus kuat,iya ga 'kaempferin'(pejuang dalam bahasa jerman) di haigerloch pula,hhaha. Ya saya memang tinggal dikota terpencil bahkan untuk ke Stuttgart saja membutuhkan 3,5 jam perjalanan menggunakan transportasi umum.
Hari sudah semakin dingin dan gelap,iseng saya masuk ke dapur restoran tersebut,abla yang sibuk dengan adonannya iseng saya godain dan memaksa untuk membantu hingga akhirnya Abi mengijinkan saya membantu abla.Abi bilang"nanti ke Jerman lagi,kerja di resto sini" dengan nada bercanda (dalam hati saya aminin.hhi)
Hari itu mereka berdua menyiapakan makanan malam khusus untuk saya pada saat resto tutup.Lampu penyajian yang sudah mati tinggal lampu kuning kecil yang tersorot di meja pengunjung dengan makanan yang super luar biasa! soup khas turki dengan daging iga lembut,salad,doenner,kentang goreng dan berbagai minuman.Dimeja makan kami berbincang lebih dalam,bercerita tentang hidup,semangat dan ikhlas,
Setiap kali saya bertanya mengapa mereka berbuat sebaik ini kapada saya selama ini,mereka hanya tersenyum sembari bercanda,kamu anak perempuan kami nak,Jawaban ini yang seraya selalu ku doakan mereka agar memiliki keturunan meramaikan rumah mereka yang selama ini jadi mimpi mereka.
Hari ini,,,,,,,,,,,,,,verges ich nie!!!! liebe euch so sehr,alhamdulillah,ternyata persaudaraan islam terasa lebih kuat dari halnya hubungan darah,bahkan walau harus dari belahan bumi yang berbeda
Setelah membaca hingga selesai,ku tatap mata mereka satu persatu yang berkaca-kaca bahkan menangis,ya.Ditempat ini saya justru tak pernah merasa asing atau dibeda-bedakan,bertemu dengan orang-orang luar biasa dari berbagai belahan dunia.
Tak sampai situ,sepulangnya saya kembali ke rumah Fadimeabla,saya sempatkan mampir ke salah satu restorant kebab yang mulai dari saya menginjakkan kaki disini,beliau selalu ngotot agar saya tidak membayar makanan apapun yang saya pesan,ingat? cerita awal ketika saya mencari Masjid dan mampir di resto ini?ya.semua berawal dari situ,kini sudah beberapa bulan berlalu,bahkan berjalan menapaki Tahun.
Kali ini kami berbincang hangat,dimulai rasa penasaran Basutamzah dan juga istrinya karena hari itu saya tidak memesan apa-apa,teh khas Turki menemani perbincangan kami,jujur kali itu saya membawa ratusan uang 10cent dan 20cent yang niatnya akan saya tukar ke Bank,iseng-iseng tanya,ternyata orang yang akrab saya angaap paman ini,tersenyum dan berkata "ya,sini mana sini" kami menghitung bersama,namun koin yang saya bawa tak sampai 50euro,saat saya bercanda dan mulai lalai dengan keseriusan kami,Basutamzah menyelipkan 50euro kedalam kotak tempat koin saya,serentak saya menolak dengan berbagai cara karena jumlah uang yang saya tukarkan tidak sebesar itu,beliau tersenyum dan menjawab "bukan jumlahnya,namun nilainya,liat.liat perjuanganmu nak,kalau nanti kamu menemukan orang baik yang sepertimu,bantu anak itu,lakukan yang baik" mendengar omongannya saya hanya bisa tertegun,saat itu juga abla menghibur saya untuk memanggil suaminya abi(kakak laki-laki dalam bahasa Turki),mereka berbincang dalam bahasa Turki,jujur saya ga paham sama sekali,saat itu abla memeluk erat menatap dalam.Saya hanya bisa memasrakan tubuh ini yang nyatanya saya tidak sendiri,kami bercerita tentang indahnya negara kami,begitu kayanya negara kami,beliau juga paham tak mudah bagi orang indonesia bisa menginjakkan kaki di Jerman,dengan nada bercanda abla menggoda "liat,badan kecil,tapi disini (*nunjuk hati)harus besar,harus kuat,iya ga 'kaempferin'(pejuang dalam bahasa jerman) di haigerloch pula,hhaha. Ya saya memang tinggal dikota terpencil bahkan untuk ke Stuttgart saja membutuhkan 3,5 jam perjalanan menggunakan transportasi umum.
Hari sudah semakin dingin dan gelap,iseng saya masuk ke dapur restoran tersebut,abla yang sibuk dengan adonannya iseng saya godain dan memaksa untuk membantu hingga akhirnya Abi mengijinkan saya membantu abla.Abi bilang"nanti ke Jerman lagi,kerja di resto sini" dengan nada bercanda (dalam hati saya aminin.hhi)
Hari itu mereka berdua menyiapakan makanan malam khusus untuk saya pada saat resto tutup.Lampu penyajian yang sudah mati tinggal lampu kuning kecil yang tersorot di meja pengunjung dengan makanan yang super luar biasa! soup khas turki dengan daging iga lembut,salad,doenner,kentang goreng dan berbagai minuman.Dimeja makan kami berbincang lebih dalam,bercerita tentang hidup,semangat dan ikhlas,
Setiap kali saya bertanya mengapa mereka berbuat sebaik ini kapada saya selama ini,mereka hanya tersenyum sembari bercanda,kamu anak perempuan kami nak,Jawaban ini yang seraya selalu ku doakan mereka agar memiliki keturunan meramaikan rumah mereka yang selama ini jadi mimpi mereka.
Hari ini,,,,,,,,,,,,,,verges ich nie!!!! liebe euch so sehr,alhamdulillah,ternyata persaudaraan islam terasa lebih kuat dari halnya hubungan darah,bahkan walau harus dari belahan bumi yang berbeda
Montag, 17. August 2015
Sepertihalnya

Sepertihalnya awan keruh yang membentang
Saat sinar matahari datang ketika malam tinggallah cahaya bulan
Saat itu juga kehampaan pergi seraya sapaannya kembali datang
Menghabiskan waktu ditenggah mengenyahkan rasa canggung
Atau mungkin hanyalah balada asa yang akan terus ditampik
Atau kan ada masanya disaat asa itu menjadi nyata
Bagaimana ia menjaga
Ia menjaga dengan caranya
Kesal dan sebal tak jarang datang
Namun lagi-lagi sepertihalnya sebuah grafitasi yang menarik
Tetap berdiri di kedalaman yang sama walau inginkan terbang
Jikalau ia terbang lagi-lagi realita pecahkan harapan
Seraya impi yang mengambang
Berjalan diatas udara dan hanya bisa dirasakan
Bagaimana mungkin membiarkannya begitusaja walau rasa ingin lepas
Andai bukan lagi asa biarkan menjadikan ini grafitasi yang nyata
Namun jikanyata mungkin saja rasa gila mungkin akan muncul ditengahnya
Andai keberanian akan ini semua muncul sepertihalnya cerita semestinya tanpa ada asa
Seperti diginnya ,,ice mint" yang lama-lama juga akan mencair
Yang juga bisa tumpah basah sebelm dinikmati
Hanya meninggalkan bekas
Sepertigalnya pula srusupan kopi panas atau kenikmatan dari segelas ,,ice kofee"
Hanya untuk mengisi dan menghabiskan waktu
Siapa lah daya ini yang hanya mengikuti alur ceritanya
Yang halnya seperti perahu kecil yang mencoba terus menapaki tujuan dan menikmati seraya yang ada
Saat gelap datang tawa memecah namun lagi-lagi tak kuasa
Memalingkan untuk mencari obat
Membiarkan ini seraya aliran air yang akan kembali pada arusnya
Sonntag, 16. August 2015
Cerita baru di Praha
Kali ini kami bertemu kembali ditanah baru yang pernah menjadi tujuan dari mimpi kami. Saat ku langkahkan kaki menuruni tangga bus senyuman dan tawa hangat menyambut serta pelukan erat. Dekapan yang datang dari teman,sahabat,saudara bahkan keluarga baru yang sudah lama kami rindukan. Mata berkaca yang mengantarkan kami pada cerita-cerita nostalgia beberapa tahun lalu hingga akhirnya kami bisa bersama berdiri disini walau tak sesempurna bayangan kami. Belum ada setengah jam tingkah polah kami kembali menjadi seperti halnya cerita lalu. Tawa dan cerita saat menikmati kota Leipzig,kekhawatiran saat pengambilan koper yang terkunci pada locker yang salah.Ya.ini lah kami cerita bahagia yang kami buat setiap kalinya.Selama perjalanan Leipzig-Halle Saale,cerita kami semakin menjadi mengingat teman kami yang lain,perjuangaanya,canda tawa bahkan sedihnya.Saat itu juga mata kami berkaca-kaca mengingat semuanya.Dulu kami yang pernah nangis bersama karena tingakah kami sendiri,kini berubah menjadi air mata haru,bangga satu dengan yang lainnya.Tak biarkan ini semakin berlarut kami kembalikan topik pembicaraan kami pada rencana liburan kami ke Negara Tetangga :)
Kami pilih Praha,Ceko. Setelah bertahun-tahun kami berjuang sendiri-sendiri dan sudah lama tak bersua.Syukurlah,liburan musim panas kali ini kami bisa bertemu walau tak sesempurna saat bersama yang lain.Hingga pada hari H.Tepat pukul lima pagi kami bergegas meninggalkan Halle Saale menuju Leipzig tempat pemberhentian bus saat pertama kali kami bertemu.Kami menempuh perjalanan sekitar empat jam hingga akhirnya sampai di Praha.
Sesampainya disana kami sempatkan untuk menukarkan Euro yang kami bawa dengan Koruna serta membeli peta kecil untuk mempermudah kami untuk menentukan tujuan mulai dari yang terdekat dan mengfleksibilitaskan penggunaan waktu yang hanya 3hari 2malam. Ini pertama kalinya kami menggunakan metro yang berada di ceko,menuruni jalan mencari hostel tempat kami beristirahat.Kami memang sengaja datang lebih awal,kami hanya menitipkan barang bawaan kami dan melanjutkan perjalanan kami menikmati indahnya kota Praha.Berkali kali kami tanyakan pada diri kami sendiri seraya tidak percaya kini kami bersama untuk berlibur di kota asing yang indah setelah lama kami tidak bertemu.Mulai dari concerthall,oldtown,museum figure hingga jembatan charles bridge kami telusuri setiap sisi jalanannya,selama perjalanan mata kami pun dimanjakan dengan bangunan indah khas eropa,tak jarang kami membayangkan andai yang lainnya pun ada diantara kami,terlebih kemarin chacan masih menyimpan photo perjalanan kami empat tahun lalu ketika masih berada di Indonesia untuk menelusuri kota Malang yang masih ia simpan dalam dompetnya :P
Pertanyaan meyakinkan diri dan rasa syukur seakan tumpah dalam indahnya kota Praha.Bangunan khas eropa yang menjulang tinggi,suasana romantis menjelang gelap,kebersamaan dan canda tawa membuang rasa lelah mengingat sedari pagi kami tidak berhenti seakan tak mau kehilangan sedikitpun waktu untuk dihabiskan.Kami memilih salah satu Restoran yang menyediakan makanan khas Ceko untuk makan siang kami hingga akhirnya kami melepas lelah kembali ke Hostel tempat kami beristirahat.
Hari kedua kami lanjutkan perjalanan kami dibagian sebrang menggunakan Tram menuju Schloss/Castle.Hingga malam terakhir kami,kami telusuri sepanjang jalan dengan teman baru kami.Danil,lelaki ramah yang berasal dari Rusia.Ia mengetahui banyak hal tentang kota dan negara nan indah ini.Sosoknya yang sederhana namun tetap terlihat cerdas dan tergolong sangat sukses diusia mudanya.sebagai pembisnis antar negara juga menjadi pembicara dalam setiap rapat bisnisnya,namun disisi lain dibalik kemapanannya ia adalah sosok sederhana yang lebih memaknai hidup,menikmati hidup tanpa memperlihatkan kemapanannya diusianya yang tergolong masih sangat muda.Ia sosok yang sabar juga terbuka dalam berbagi cerita juga pengalaman.Bagi kami pengalamannya lebih dari cukup! Bisa mengenal dan menghabiskan waktu berlibur bersamanya saja membuat kami saling bertukar cerita tentang keanekaragaman,sosial antar negara,budaya dan kekayaan alamnya. Cerita demi cerita diantara bangunan cantik yang memiliki banyak sejarah,suasana menawan yang disuguhkan ketika malam.Malam itu saya hanya ingin menikmati situasi yang luar biasa indahnya.Bertemu sahabat yang lama tidak bertemu hingga dipertemukan dengan orang-orang baru serta menikmati indahnya bangunan menjulang khas eropa juga sungai yang terbentang luas,jembatan romantis penuh seni dan makna juga sinaran lampu yang menerangi sudut jalan tempat kita melangkah.Hingga hari berganti pagi,hari ini kami berencana menghabiskan hari dengan Danil.Kami menjelajahi Castle di kota cantik ini,Danil pun menjabarkan apa yang ia tau tentang sejarah juga cerita pengalamannya dibawah bangunan tua yang menjulang tinggi dan luas dengan megahnya.Ya.kali itu pertama dan terakhirkalinya kami benar-benar menghabiskan waktu dengannya.
Hingga saya tuliskan cerita ini,liburan ini bukan hanya tentang perjalanan dan pengalaman.Namun tentang sejarah pertemanan kami sejak berusaha meraih cita di Indonesia,kesabaran menyamakan jadwal untuk bertemu walau kami sudah berada di Jerman,hingga jawaban Tuhan pertemukan kami dan memberikan kami kesempatan untuk menghabiskan waktu di belahan negara lain yang mengantarkan kami bertemu dengan orang-orang hebat di bagian dunia lainnya.Sepanjang liburan tak jarang khayalan kami tertuju pada bayangan akan yang lainnya,andai mereka ada,andai mereka menyaksikan,andai mereka diantara kami,andai mereka juga bertemu dengan orang-orang seperti halnya Danil,andai mereka juga melihat mata yang berkaca penuh haru akan perjuangan dan perjalanan beberapa tahun ini. Sedih,senang,cinta,harapan,mimpi,terpuruh,jatuh hingga akhirnya kami mencoba bengkit dan bertahan dengan jalan dan cara kami masing-masing.Cerita kita belum selesai kawan! ikatan ini lebih dari apa yang orang lain lihat,terserah mereka berkata apa tentang kita,tentang apa yang kita punya.Enyahlah,karena kita pemilik ceritanya.
Satu dari kalian malam ini berjalan disebelahku di negara asing memecah sebuah peta temukan jalan dan tujuan,layaknya kita dulu yang terus berjalan tanpa tau seberapa banyak lika-likunya dan seberapa banyak jalan yang bisa dipilih.Kini ku melihat satu dari kalian berbagi cerita dengan Danil,seperti halnya antusias kita saat mendengarkan sosok yang kita anggap guru menjabarkan materi dan pengalamannya,seperti halnya ketertarikan kita menemukan hiburan dan hal-hal baru,kini satu dari kalian berjalan bersamaku menelusuru tanjakan turunan hingga gang-gang kecil juga jembatan.Sepertihalnya cerita kebersaam kita dulu saat belajar,ujian,bermain,berusaha menghabiskan waktu dengan rasa campur aduk.Kini angin sepoi-sepoi menyadarkan bahwa kalian akan selalu tetap ada walau kita sendiri belum tahu kapan kita bisa kembali berkumpul bersama.Ini kita yang memilih tetap bahagia dengan cara kita sendiri.Kini yang satunya menelusuri toko demi toko,tempat tujuan demi tempat tujuan,seperti halnya kita dulu bersama menghabiskan hari dari cafe ke cafe.Ada senyun tawa canda dan raut wajah yang dulu pernah ada,kini kembali bersua di tanah asing.Melihat luasnya dunia seperti halnya diantara kita yang tak terpuruk demi bangkit.Akan selalu ada kesempatan untuk bahagia,akan selalu ada waktunya,seperti halnya waktu pertama kita berkenalan dulu.Bukan untuk mendewakan cerita,namun jelas kita bisa merasakannya.
Teman,kini kami disini walau tanpa kalian,namun...bersamanya sudah cukup mewakilkan tentang cerita kita walau kami sendiri menyadari kekosongan yang masih terasa tanpa yang lainnya,saat syukur adalah jawaban disetiap perjuangan kita menyelimuti setiap rasa keluh yang ada
Kami pilih Praha,Ceko. Setelah bertahun-tahun kami berjuang sendiri-sendiri dan sudah lama tak bersua.Syukurlah,liburan musim panas kali ini kami bisa bertemu walau tak sesempurna saat bersama yang lain.Hingga pada hari H.Tepat pukul lima pagi kami bergegas meninggalkan Halle Saale menuju Leipzig tempat pemberhentian bus saat pertama kali kami bertemu.Kami menempuh perjalanan sekitar empat jam hingga akhirnya sampai di Praha.
Sesampainya disana kami sempatkan untuk menukarkan Euro yang kami bawa dengan Koruna serta membeli peta kecil untuk mempermudah kami untuk menentukan tujuan mulai dari yang terdekat dan mengfleksibilitaskan penggunaan waktu yang hanya 3hari 2malam. Ini pertama kalinya kami menggunakan metro yang berada di ceko,menuruni jalan mencari hostel tempat kami beristirahat.Kami memang sengaja datang lebih awal,kami hanya menitipkan barang bawaan kami dan melanjutkan perjalanan kami menikmati indahnya kota Praha.Berkali kali kami tanyakan pada diri kami sendiri seraya tidak percaya kini kami bersama untuk berlibur di kota asing yang indah setelah lama kami tidak bertemu.Mulai dari concerthall,oldtown,museum figure hingga jembatan charles bridge kami telusuri setiap sisi jalanannya,selama perjalanan mata kami pun dimanjakan dengan bangunan indah khas eropa,tak jarang kami membayangkan andai yang lainnya pun ada diantara kami,terlebih kemarin chacan masih menyimpan photo perjalanan kami empat tahun lalu ketika masih berada di Indonesia untuk menelusuri kota Malang yang masih ia simpan dalam dompetnya :P
Pertanyaan meyakinkan diri dan rasa syukur seakan tumpah dalam indahnya kota Praha.Bangunan khas eropa yang menjulang tinggi,suasana romantis menjelang gelap,kebersamaan dan canda tawa membuang rasa lelah mengingat sedari pagi kami tidak berhenti seakan tak mau kehilangan sedikitpun waktu untuk dihabiskan.Kami memilih salah satu Restoran yang menyediakan makanan khas Ceko untuk makan siang kami hingga akhirnya kami melepas lelah kembali ke Hostel tempat kami beristirahat.
Hari kedua kami lanjutkan perjalanan kami dibagian sebrang menggunakan Tram menuju Schloss/Castle.Hingga malam terakhir kami,kami telusuri sepanjang jalan dengan teman baru kami.Danil,lelaki ramah yang berasal dari Rusia.Ia mengetahui banyak hal tentang kota dan negara nan indah ini.Sosoknya yang sederhana namun tetap terlihat cerdas dan tergolong sangat sukses diusia mudanya.sebagai pembisnis antar negara juga menjadi pembicara dalam setiap rapat bisnisnya,namun disisi lain dibalik kemapanannya ia adalah sosok sederhana yang lebih memaknai hidup,menikmati hidup tanpa memperlihatkan kemapanannya diusianya yang tergolong masih sangat muda.Ia sosok yang sabar juga terbuka dalam berbagi cerita juga pengalaman.Bagi kami pengalamannya lebih dari cukup! Bisa mengenal dan menghabiskan waktu berlibur bersamanya saja membuat kami saling bertukar cerita tentang keanekaragaman,sosial antar negara,budaya dan kekayaan alamnya. Cerita demi cerita diantara bangunan cantik yang memiliki banyak sejarah,suasana menawan yang disuguhkan ketika malam.Malam itu saya hanya ingin menikmati situasi yang luar biasa indahnya.Bertemu sahabat yang lama tidak bertemu hingga dipertemukan dengan orang-orang baru serta menikmati indahnya bangunan menjulang khas eropa juga sungai yang terbentang luas,jembatan romantis penuh seni dan makna juga sinaran lampu yang menerangi sudut jalan tempat kita melangkah.Hingga hari berganti pagi,hari ini kami berencana menghabiskan hari dengan Danil.Kami menjelajahi Castle di kota cantik ini,Danil pun menjabarkan apa yang ia tau tentang sejarah juga cerita pengalamannya dibawah bangunan tua yang menjulang tinggi dan luas dengan megahnya.Ya.kali itu pertama dan terakhirkalinya kami benar-benar menghabiskan waktu dengannya.
Hingga saya tuliskan cerita ini,liburan ini bukan hanya tentang perjalanan dan pengalaman.Namun tentang sejarah pertemanan kami sejak berusaha meraih cita di Indonesia,kesabaran menyamakan jadwal untuk bertemu walau kami sudah berada di Jerman,hingga jawaban Tuhan pertemukan kami dan memberikan kami kesempatan untuk menghabiskan waktu di belahan negara lain yang mengantarkan kami bertemu dengan orang-orang hebat di bagian dunia lainnya.Sepanjang liburan tak jarang khayalan kami tertuju pada bayangan akan yang lainnya,andai mereka ada,andai mereka menyaksikan,andai mereka diantara kami,andai mereka juga bertemu dengan orang-orang seperti halnya Danil,andai mereka juga melihat mata yang berkaca penuh haru akan perjuangan dan perjalanan beberapa tahun ini. Sedih,senang,cinta,harapan,mimpi,terpuruh,jatuh hingga akhirnya kami mencoba bengkit dan bertahan dengan jalan dan cara kami masing-masing.Cerita kita belum selesai kawan! ikatan ini lebih dari apa yang orang lain lihat,terserah mereka berkata apa tentang kita,tentang apa yang kita punya.Enyahlah,karena kita pemilik ceritanya.
Satu dari kalian malam ini berjalan disebelahku di negara asing memecah sebuah peta temukan jalan dan tujuan,layaknya kita dulu yang terus berjalan tanpa tau seberapa banyak lika-likunya dan seberapa banyak jalan yang bisa dipilih.Kini ku melihat satu dari kalian berbagi cerita dengan Danil,seperti halnya antusias kita saat mendengarkan sosok yang kita anggap guru menjabarkan materi dan pengalamannya,seperti halnya ketertarikan kita menemukan hiburan dan hal-hal baru,kini satu dari kalian berjalan bersamaku menelusuru tanjakan turunan hingga gang-gang kecil juga jembatan.Sepertihalnya cerita kebersaam kita dulu saat belajar,ujian,bermain,berusaha menghabiskan waktu dengan rasa campur aduk.Kini angin sepoi-sepoi menyadarkan bahwa kalian akan selalu tetap ada walau kita sendiri belum tahu kapan kita bisa kembali berkumpul bersama.Ini kita yang memilih tetap bahagia dengan cara kita sendiri.Kini yang satunya menelusuri toko demi toko,tempat tujuan demi tempat tujuan,seperti halnya kita dulu bersama menghabiskan hari dari cafe ke cafe.Ada senyun tawa canda dan raut wajah yang dulu pernah ada,kini kembali bersua di tanah asing.Melihat luasnya dunia seperti halnya diantara kita yang tak terpuruk demi bangkit.Akan selalu ada kesempatan untuk bahagia,akan selalu ada waktunya,seperti halnya waktu pertama kita berkenalan dulu.Bukan untuk mendewakan cerita,namun jelas kita bisa merasakannya.
Teman,kini kami disini walau tanpa kalian,namun...bersamanya sudah cukup mewakilkan tentang cerita kita walau kami sendiri menyadari kekosongan yang masih terasa tanpa yang lainnya,saat syukur adalah jawaban disetiap perjuangan kita menyelimuti setiap rasa keluh yang ada
Mittwoch, 22. Juli 2015
Air Mata si Penyihir
Malam ini saya menatap air matanya lagi untuk kesekian kalinya,penyihir kecil yang biasanya selalu tertawa riang ternyata menyimpan banyak sesak.Untuk saya yang hanya bisa melihat dan menenangkannya saja dibuat sesak, walau ditengah kultur yang berbeda ternyata tetap saja membuat hal ini sangat penting.
Hal yang seharusnya didapat secara utuh seperti halnya janji untuk bersatu. Namun diantara yang asing ini janji hanya akan menjadi janji bilahalnya tak meninggalkan tempat dihati.Namun jelas berbeda dengan apa yang dirasakan penyihir kecil ini yang sedari lahir sudah bersama pria tua itu.Yang saya lihat bagaimanapun hebatnya lelaki baru itu hatinya akan tetap terpaut pada yang memeluknya sedari kecil walau ia semakin beranjak tua dan sakit.Walau keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya saat bersama pria tua,namun lelaki muda gagah yang mendekati sempurna justru membuatnya merasa sedih dibalik tawa nakalnya.
Hal yang seharusnya didapat secara utuh seperti halnya janji untuk bersatu. Namun diantara yang asing ini janji hanya akan menjadi janji bilahalnya tak meninggalkan tempat dihati.Namun jelas berbeda dengan apa yang dirasakan penyihir kecil ini yang sedari lahir sudah bersama pria tua itu.Yang saya lihat bagaimanapun hebatnya lelaki baru itu hatinya akan tetap terpaut pada yang memeluknya sedari kecil walau ia semakin beranjak tua dan sakit.Walau keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya saat bersama pria tua,namun lelaki muda gagah yang mendekati sempurna justru membuatnya merasa sedih dibalik tawa nakalnya.
Penyihir yang seringkali saya takuti kedatangan akan tingkahnya yang melelahkan kali ini memeluk erat dan hanya bisa melepas sedihnya pada perempuan asing yang masuk menjadi bagian dari hidup dan keluarganya.Setiap pagi ia berharap bisa menghabiskan sarapannya dengan wanita asing ini dan diam-diam menggapai pria tua untuk membawanya memulai hari.Ia teteap suka schokoball sebagai muslinya walau banyak pilihan lain yang lebih sehat dan mahal.Ia tetap menatapi photo pria tua dan malaikatnya yang juga menjadi hadiah dalam hidupku.
Ia tetap berbicara pada Angelnya untuk tetap berharap malaikat dunia dan pria tua itu tetap bersama walau ia tau kekacauan yang akan dia dapatkan.Hari ini seharusnya ia kembali pulang ke rumah namun saat telpon berdering ia meminta ijin untuk bisa habiskan waktunya walau sebentar dengan pria tua itu.
Tak sampai hati jikaku menolak dan tak memberikan ijin walau hanya beberapa menit saja.Malam ini ia berbicara pada Angel dan berharap ia akan terus melihat dan dapat bertemu dengan pria tua itu.
Ia tetap berbicara pada Angelnya untuk tetap berharap malaikat dunia dan pria tua itu tetap bersama walau ia tau kekacauan yang akan dia dapatkan.Hari ini seharusnya ia kembali pulang ke rumah namun saat telpon berdering ia meminta ijin untuk bisa habiskan waktunya walau sebentar dengan pria tua itu.
Tak sampai hati jikaku menolak dan tak memberikan ijin walau hanya beberapa menit saja.Malam ini ia berbicara pada Angel dan berharap ia akan terus melihat dan dapat bertemu dengan pria tua itu.
Hai penyihir kecil,memang kadang hidup tak seperti yang diharapkan. Ada atau tidak adanya aku nanti,tetaplah menjadi yang tegar dan ceria namun jangan lagi.Kau ini bukan seorang putri,bahkan ratu pun tak mendapatkan semua yang ia inginkan.Ini hidup sayang,mungkin akan ada saatnya nanti kamu harus memilih walau sepertinya pilihan akhirnya kau harus bersama lelaki baru itu dan melupakan si pahlawan yang kini semakin tua dan sakit-sakitan, jangan sedih, yakin malaikat duniamu juga tak kan pernah melupakan kebaikan yang pernah menjadi pahlawanmu hingga kau sebesar ini.Pelukanmu mengisak tangis,tangisan dan air mata yang terus terisak karna kamu sudah terlalu lama menahan,setiap kau menangis tak biarkan semua orang tau dan kau tumpahkan semuanya pada yang asing ini.Seperti halnya penyihir,kau memang penyihir kecil..........
Samstag, 18. Juli 2015
Percuma
Percuma bicara dengan yang memang tak sudi mendengarkan
Percuma juga menjabarkan kepada yang merasa pintar
Percuma bertahan jika akhirnya tak dianggap ada
Percuma bercanda pada siapa yang selalu berpikir akan kebenarannya
Percuma berkata panjang lebar jika nyatanya ia merasa lebih
Percuma berbagi pada mereka yang merasa puas atas pencapaiannya
Percuma berjuang dan memberi HATI pada yang tak bisa menghargai
Semangat apa lagi jika memang sudah merasa memiliki semuanya
Ya,bagaimana bisa terus tetap bercerita jika ujungnya semua percuma
Percuma juga menjabarkan kepada yang merasa pintar
Percuma bertahan jika akhirnya tak dianggap ada
Percuma bercanda pada siapa yang selalu berpikir akan kebenarannya
Percuma berkata panjang lebar jika nyatanya ia merasa lebih
Percuma berbagi pada mereka yang merasa puas atas pencapaiannya
Percuma berjuang dan memberi HATI pada yang tak bisa menghargai
Semangat apa lagi jika memang sudah merasa memiliki semuanya
Ya,bagaimana bisa terus tetap bercerita jika ujungnya semua percuma
Donnerstag, 16. Juli 2015
Cerita Kalian
Cerita kalian membawaku pada tempat yang baru untukku
Membawaku pada sebuah perjalanan hidup
Cerita kalian membawakanku pada "fase" yang tak biasa
Cerita yang membawaku pada karier dini yang tak semua bisa rasa
Cerita kalian pula yang membawaku bertemu dengan mereka
Mereka yang memiliki kebersamaan seperti halnya kita dulu sebelum kejadian itu
Mereka yang akhirnya menjadi keluarga menjalani proses melangkah jauh
Cerita kalian yang menjadi bekal kekuatan saat halnya ku bersama mereka
Bukan lagi tentang mental saat ku menghadapi hari-hariku dulu bersama kalian
Namun tentang menerima dan bangkit
Bagaimana bisa ku menolak fakta yang dulu pernah ada
Yang nyatanya ini menjadi hal yang indah
Cerita kalian yang justru menjadikan inspirasi bahkan solusi
Cerita kalian melahirkan cerita-cerita baruku bersama mereka
Cerita yang mempersatukan aku dan mereka
Mereka yang kini memelukku di negeri jauh ini
Mereka yang menguatkanku walau terpisah jarak dan waktu
Bukan lagi mental saat berdiri dilapangan atau berbagi sekotak teh dari mulut ke mulut
Bukan lagi mental saat melewati tulisan 'ideal' atau melihat kalian latihan
Namun saat kami belajar bersama bercanda tertawa mengila seperti layaknya cerita yang kalian berikan dulu
Bukan hanya itu bahkan saat kami menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menggapai cita walau tak seperti yang kami bayangkan
Saat kami menjajaki jalanan ibu kota demi sebuah identitas menuntut ilmu
Saat kami mengitari dari kota ke kota untuk mendapat lembaran surat yang menjadi syarat
Saat kami satu persatu meninggalkan dan ditinggalkan demi mimpi
Saat kami yang akhrnya berharap besua saat sudah berada di negeri ini
Hai kalian, kenalkan ini kami,cerita yang justru ada saat perempuan ini tak kalian anggap lagi
Hai kenalkan cerita penting yang terinspirasi dari kalian yang penting
Mari berjabat tangan karna kami ada karena pelajaran besar yang tanpa disadari sudah kalian bagi
Ini hidup sudah tak butuh lagi drama
Membawaku pada sebuah perjalanan hidup
Cerita kalian membawakanku pada "fase" yang tak biasa
Cerita yang membawaku pada karier dini yang tak semua bisa rasa
Cerita kalian pula yang membawaku bertemu dengan mereka
Mereka yang memiliki kebersamaan seperti halnya kita dulu sebelum kejadian itu
Mereka yang akhirnya menjadi keluarga menjalani proses melangkah jauh
Cerita kalian yang menjadi bekal kekuatan saat halnya ku bersama mereka
Bukan lagi tentang mental saat ku menghadapi hari-hariku dulu bersama kalian
Namun tentang menerima dan bangkit
Bagaimana bisa ku menolak fakta yang dulu pernah ada
Yang nyatanya ini menjadi hal yang indah
Cerita kalian yang justru menjadikan inspirasi bahkan solusi
Cerita kalian melahirkan cerita-cerita baruku bersama mereka
Cerita yang mempersatukan aku dan mereka
Mereka yang kini memelukku di negeri jauh ini
Mereka yang menguatkanku walau terpisah jarak dan waktu
Bukan lagi mental saat berdiri dilapangan atau berbagi sekotak teh dari mulut ke mulut
Bukan lagi mental saat melewati tulisan 'ideal' atau melihat kalian latihan
Namun saat kami belajar bersama bercanda tertawa mengila seperti layaknya cerita yang kalian berikan dulu
Bukan hanya itu bahkan saat kami menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menggapai cita walau tak seperti yang kami bayangkan
Saat kami menjajaki jalanan ibu kota demi sebuah identitas menuntut ilmu
Saat kami mengitari dari kota ke kota untuk mendapat lembaran surat yang menjadi syarat
Saat kami satu persatu meninggalkan dan ditinggalkan demi mimpi
Saat kami yang akhrnya berharap besua saat sudah berada di negeri ini
Hai kalian, kenalkan ini kami,cerita yang justru ada saat perempuan ini tak kalian anggap lagi
Hai kenalkan cerita penting yang terinspirasi dari kalian yang penting
Mari berjabat tangan karna kami ada karena pelajaran besar yang tanpa disadari sudah kalian bagi
Ini hidup sudah tak butuh lagi drama
Kembali Pulang
Pada nyatanya sejauh apapun kau melangkah kau akan kembali kepada masa yang dulu pernah menjadi rumahmu untuk singgah
Coretan puisi yang dulu ia pernah buat diantara coretan catatanku untuk membuang rasa
Dulu ada yang pernah bilang "puisiku bukan noda yu,ayu"
Cerita yang dulu ingin ku abaikan jikalau bisa
Namun sekarang.................
Ada yang datang dengan membawa sejuta cerita
Yang membukakan mata dengan kenangannya bahwa semuanya indah jika bersama
Sayangnya kebersamaan yang seperti apa kita dulu?
Dan pada akhirnya tidaklah penting siapa kita
Sepuluh tahun yang menjadi dari sejarah perjalanan
Pertanyaannya,bukankah siapa kita dulu ataupun sekarang
Bukan pula kepopuleran ataupun gengsi
Bukan lagi pengakuan atas pencapaian ataupun status
Namun apa saja yang sudah kita lakukan semasa itu?
Bahkan mungkin membekas sampai saat ini
Bagaimana bisa aku membenci kalian saat satu persatu datang menyapa membawa maaf
Jangan berpikir aku lupa,bagaimana bisa ku melupakan kekuatan yang telah kalian tularkan
Pelajaran hidup yang bahkan membuat yang lainnya terinspirasi saatku duduk didalam ruang siaran
Cerita kalian luar biasa membawaku pada sebuah perasaan dan rangkaian kata untuk banyak orang hingga bertahun-tahun
Dan aku telah mengantonginya 10 tahun lalu mulai saat kita bersama,berpisah atau bahkan belaga tak saling mengenal
Kata maaf bukan lagi jamannya teman!
Jadilah lantang seperti halnya dulu waktu kalian berteriak lantang mengarah padaku
Bukan bersembunyi diantara yang lainnya
Kamu tau? kamu tidak sendiri,kalian satu persatu membawa kalimat yang sama
Sepengecut itukah? bahkan sudah selama ini, masih saja mau bersembunyi dibalik pesan pribadi
Bisa bertemu,duduk dan bercanda bersama kalian saja mungkin tidak lagi seperti dulu bagiku
Mungkin sekarang aku hanya akan belajar mengenal kalian lagi seperti halnya dulu sebelum kejadian itu
Seperti dulu saat kita bercanda membuang waktu
Aku hanyalah orang baru kala itu,namun kalian memberikan lebih dari hanya sekedar cerita dan pengalaman
Pelajaran yang kudapati dari kalian lebih dari saat ku duduk didalam kelas
Bahkan masih melekatt tajam dalam ingatan
Cerita kita membawa ku pada kacamata baru yang ternyata tak semua orang dapat
Terimakasih kalian,yang dulu menyapa dan sudi menjadikanku bagian dari kalian walau tak mulus seperti halnya lain selamanya
Jika memang masih ada ruang untuk bertemu dan berbicara
Kini kutuliskan lagi cerita tantang kita seperti halnya vidio yang membuat ingatan ini kembali pulang
Kembali untuk sudi melihat masa lalu yang dulu inginku padamkan saja
Namun ternyata semuanya kini berbeda,ternyata pada kalianlah ceritaku ini kembali pulang
Coretan puisi yang dulu ia pernah buat diantara coretan catatanku untuk membuang rasa
Dulu ada yang pernah bilang "puisiku bukan noda yu,ayu"
Cerita yang dulu ingin ku abaikan jikalau bisa
Namun sekarang.................
Ada yang datang dengan membawa sejuta cerita
Yang membukakan mata dengan kenangannya bahwa semuanya indah jika bersama
Sayangnya kebersamaan yang seperti apa kita dulu?
Dan pada akhirnya tidaklah penting siapa kita
Sepuluh tahun yang menjadi dari sejarah perjalanan
Pertanyaannya,bukankah siapa kita dulu ataupun sekarang
Bukan pula kepopuleran ataupun gengsi
Bukan lagi pengakuan atas pencapaian ataupun status
Namun apa saja yang sudah kita lakukan semasa itu?
Bahkan mungkin membekas sampai saat ini
Bagaimana bisa aku membenci kalian saat satu persatu datang menyapa membawa maaf
Jangan berpikir aku lupa,bagaimana bisa ku melupakan kekuatan yang telah kalian tularkan
Pelajaran hidup yang bahkan membuat yang lainnya terinspirasi saatku duduk didalam ruang siaran
Cerita kalian luar biasa membawaku pada sebuah perasaan dan rangkaian kata untuk banyak orang hingga bertahun-tahun
Dan aku telah mengantonginya 10 tahun lalu mulai saat kita bersama,berpisah atau bahkan belaga tak saling mengenal
Kata maaf bukan lagi jamannya teman!
Jadilah lantang seperti halnya dulu waktu kalian berteriak lantang mengarah padaku
Bukan bersembunyi diantara yang lainnya
Kamu tau? kamu tidak sendiri,kalian satu persatu membawa kalimat yang sama
Sepengecut itukah? bahkan sudah selama ini, masih saja mau bersembunyi dibalik pesan pribadi
Bisa bertemu,duduk dan bercanda bersama kalian saja mungkin tidak lagi seperti dulu bagiku
Mungkin sekarang aku hanya akan belajar mengenal kalian lagi seperti halnya dulu sebelum kejadian itu
Seperti dulu saat kita bercanda membuang waktu
Aku hanyalah orang baru kala itu,namun kalian memberikan lebih dari hanya sekedar cerita dan pengalaman
Pelajaran yang kudapati dari kalian lebih dari saat ku duduk didalam kelas
Bahkan masih melekatt tajam dalam ingatan
Cerita kita membawa ku pada kacamata baru yang ternyata tak semua orang dapat
Terimakasih kalian,yang dulu menyapa dan sudi menjadikanku bagian dari kalian walau tak mulus seperti halnya lain selamanya
Jika memang masih ada ruang untuk bertemu dan berbicara
Kini kutuliskan lagi cerita tantang kita seperti halnya vidio yang membuat ingatan ini kembali pulang
Kembali untuk sudi melihat masa lalu yang dulu inginku padamkan saja
Namun ternyata semuanya kini berbeda,ternyata pada kalianlah ceritaku ini kembali pulang
Donnerstag, 9. Juli 2015
dekade yang lalu
Hari ini kembali ku buka album yang dulu rasanya ingin sekali aku musnahkan
Sepertihalnya kembai lagi ke masa itu
Coretan-coretan puisi tajam yang pernah tertulis sebagai lampiasan rasa
Warna warni kebersamaan bak air keruh seakan tak bisa kembali jernih
Masih ingat saat kita duduk bersama dan tertawa hanya untuk menikmati waktu
Melihat bahagianya menjadi bagian dari kebahagiaannya pula
Namun tak sedikitpun membuatnya bahagia setelahnya
Masa putih biru yang seharusnya menjadi saksi indahnya pencarian jati diri
Masa yang berjalan tak seperti anak yang lainnya
Semua orang tau,saat fase itulah seorang anak menilai sebuah pertemanan adalah hal yang terpentingdalam hidupnya,segalanya
Namun bagaiman jika ia harus menghadapi tekanan yang justru muncul dari kelompak yang ia anggap sebagai teman?
Atau bahkan mirisnya ia tak mendapat perlindungan dan pembelaan kongkrit dari pihak yang seharusnya menjadi tauladan dan memberi rasa aman?
Setelah kejadian itu setiap hari iya merelakan bangun pagi
Ancaman yang ia akan terima jika telat sedikit saja menjadi semangatnya meninggalkan tidur nyanyaknya
Pagi buta ia rela merelakan sebagian besar uang sakunya untuk membayar bapak paruh baya yang selalu mengantarnya hingga sampai didepan gerbang sekolah
setiap hari sinar diawal pagi menjadi ketakutan yang tak berujung untuknya
Mana ada anak sekolah yang berangkat pagi buta?
Setiap jam disekolah ia lewati dengan rasa ketakutan akan rasa tidak aman
Ancaman demi ancaman,makian demi makian seolah sudah menjadi makanannya
Yang dulu bersama kini sekan menjilat dan berkhianat
Tak ada seorangpun yang mau mendengar
Setiap perkataannya selalu jadi bahan cemoohan
Setiap yang dekat diberi rasa tak nyaman juga tak luput dari hasutan
Ia tau,ia jelas mendengar dan melihat langsung
Tak ada rasa bersalah sedikitpun dari yang lainnya saat menghinanya di depan matanya
Saat kamera jadul merekam semua kejadian itu
Seisi sekolah menjadi tau,namun ia tak sepintar yang lain,ia tidak populer teman!
Jangankan melawan untuk mendapatkan perlakuan layakpun ia selalu disalahkan
Daya yang ia punya tak secanggih kalian
Ia tak pernah mengharumkan nama sekolah akan otaknya namun semua lupa kalau setiap manusia ini seharusnya memiliki hati
Setiap harinya ia seperti halnya orang yang tak tau arah,ia hanya mencari celah dimana ia merasa aman
Kini semuanya tinggal kenangan
Mana yang palsu dan yang bukan jelas sudah dirasanya
Bagaiman ia bisa melupakan orang-orang yang justru rela menemaninya saat yang lain menghujat bahkan mengusir
Kini 'bully'-an yang ia terima justru menjadi faktor pendorong untuk kariernya
Lima tahun sudah suara yang dulu tak pernah didengar kini mengudara
Bahan cacian yang dulu ia rasakan kini menjadi inspirasi banyak orang
Rasa gelisahnya yang dulu kini menjadi cerita untuk siapa yang mendengarnya
Bahkan kalimat usiran yang dulu tertuju padanya kini menjadi pengantar perjuangannya menuju negri impiannya.
Ya,ia telah pergi bersama kenangannya,cacian yang menjadi doa.
Ia pergi bersama mimpi barunya
Menjadikannya tinggi?Tidak!
Mengingat hari demi hari yang dulu ia lewati kini menjadikannya pribadi yang bersyukur tanpa berambisius memikirkan level dan gengsi
Ia memang tak berdaya pada saat itu atau bahkan hingga saat ini
Orang yang menghujatnya adalah orang-orang penting dan tinggi
Ia akan selalu tau masih ada langit diatas langit namun tujuannya bukan lagi yang menjadi tujuannya mereka
Ia mengambil jalan lain yang membuatnya bahagia bukan untuk berpuas diri
Hai masa lalu,sudah 10 tahun saya meninggalkan masa itu
Bagaimana bisa setelah saya jauh kalian kembali seperti halnya kertas putih
Hai masa lalu,berdamailah secara 'sportif' dan 'gantle' tanpa sebab dilihat oleh yang lainnya
hai kalian,yang satu persatu kini datang menyapa,masih kah kalian akan menyapa jika kalian di persatukan lagi, beranikah?
Hai masalalu,terimakasih kini ku memang berdiri jauh dari tanah kalian,namun kau bilang,bawa aku kesana?bukankah ini yang kalian inginkan?
Hai masa lalu,mengapa datang lagi saat jelas dulu kalian usir perempuan ini bahkan agar lenyap dari bumi?
Hai masa lalu berdamailah tanpa ada lagi drama...
Freitag, 3. Juli 2015
ada yang bilang
ada yang bilang
ini semua hanyalah khayalan
ada yang bilang
kita hanyalah angan yang duduk manis dalam pikiran
ada juga yang bilang
mana ada hal seindah yang kita punya
mungkin seharusnya memang tidak berbagi
dengan orang yang yang hanya mendengar tanpa memahami
salah memang membaginya dengan seseorang
yang disisi lain ia sudah merasa benar dan tinggi
salah juga jika kepercayaan yang diberikan padanya terlalu berlebihan
hingga hati dan otak tak terarah
cerita ini memang milik kita
yang seharusnya kita bagi kepada yang sudi
yang sebenarnya hanya kita bagi kepada mereka yang mau belajar
bukan yang selalu merasa puas
saat hati merasa dan mata melihat
pada siapa yang hanya bisa sesukanya berargumentasi
kaget memang mendengar itu dari mulutnya
selama ini dikenal menyenangkan
ternyata memberi hadiah yang miris untuk didengar
saat kepercayaan berbalas ketidak percayaan
karena memang mereka bukan bagiannya
entahlah siapa
yang jelas hanya kita yang bisa merasa
hanya mereka yang sudi yang bisa memahami untuk mengambil efeknya
cukup hanya kita bukan lagi mereka
Dienstag, 23. Juni 2015
Doa Ibu, pertemukan Mama
Untuk kesekian kalinya saya dibuat melek dengan apa yang saya rasakan selama saya berada di tanah perantauan ini mengingat perjuangan saya untuk mencapai tanah ini bukanlah hal yang mudah untuk saya lewati ketika itu.
Sudah memasuki bulan juni ini kelas kami disibukkan dengan latihan soal dan abschlusspruf(semacam ujian akhir materi),namun ditengah ketegangan yang kami rasakan semakin erat hubungan kami dan semakin hangat suasana didalam kelas.Hari ini kelas berjalan seperti biasanya dengan segambreng soal yang bikin saya malah jadi ngantuk,hhaha
sering kali suasana pecah dengan tawaan dan candaan khas kami.ya,saya beruntung bisa mendapatkan teman dengan berbagai latar belakang bahasa dan budaya tetapi waktu mengantarkan kami layaknya seperti keluarga.
Namun,ada yang beda setelah kelas kami selesai,seorang ibu yang juga teman saya belajar dikelas tiba-tiba memberikan saya cokelat khas milka berbentuk hati,scara kaget dong tiba-tiba sweet gini,ia memeluk saya erat,selama ini kami selalu menganggapnya sebagai mama kami dikelas karena ia sangat banyak memberikan inspirasi,di umurnya yang sudah tidak muda lagi,ia masih semangat untuk belajar mengikuti aktifitas kelas dari semester ke semester,ia juga pribadi keibuan yang ramah dan perhatian yang masih aktif juga berolahraga termasuk mendaki dan bersepeda.
Pelukan erat seorang ibu yang jelas saya rindukan sebagai anak rantau saya rasakan saat beliau memeluk erat dan mencium pipi saya,saya lihat jelas matanya berkaca-kaca.Sembari memegang erat tangan saya beliau bercerita tentang rasa rindunya kepada anaknya.Ia hanya setahun sekali bisa berjumpa dengan kedua putrinya.Beliau juga bercerita ketika melihat tingkah polah saya dikelas ia teringat akan anak-anak gadisnya yang juga tinggal jauh dari beliau.Jujur,mendengarnya saja membuat hati saya merinding.Saya jelas teringat ibu saya,karna orang tua akan selalu terlihat tegar didepan anak-anaknya,namun cerita beliau membubarkan semua ketegaran yang selalu saya lihat dari paras kedua orang tua saya.Beliau juga bercerita kerinduannya kepada anak-anaknya dan beliau paham bagaimana rasanya ibu yang ditinggal jauh anak putrinya demi menggapai cita-cita untuk membahagiakannya.Ia juga menasihati saya agar tetap terus aktif dan mempertahankan nilai kemanusiaan,menjaga harga diri wanita sampai mempertahankan nilai disekolah ga lupa beliau juga berpesan untuk selalu ingat Tuhan(walau saya tau beliau tidak memiliki kepercayaan,tapi justru penutup nasihatnya membuat hati saya gemeteran)
Mungkin hanya beberapa pekan lagi kami bisa berkumpul sampai pergantian semester selanjutnya,namun malam ini Allah kasi saya petunjuk dan entah rasa ini yang jelas saya semakin bersyukur,rasanya terenyuh aja di awalan bulan Ramadhan disini memang susah-susah gampang selain durasinya yang panjang,menjaga pandangan juga susah karena sudah memasuki waktu sommer,juga toko-toko dan resto buka sewajarnya sampai teman-teman yang tentunya juga tidak berpuasa membuat saya tak jarang hanya bisa membisu,hhaha
Kejadian dan cerita malam ini membuat saya 'melek' apapun yang kita lakukan,akan dibalasNya dengan cara yang seperti apa yang sudah kita perbuat.Atau ini adalah jawaban dari ibu saya yang sedang merindukan dan tak lelah mendoakan anaknya yang usil ini.hhehe
Sepulang kerumah,waktu sudah menunjukan pukul 22.36 waktunya saya untuk buka,alhamdulillah senangnya bisa menikmati malam sehabis pulang kelas direstoran italy dengan pasta khas ditambah seafood.Bercanda dengan mama sekaligus sahabat dan teman terbaik saya dijerman sebelum tidur,hingga saya sempatkan menulis ini.
Empat tahun menunggu kepastian hingga bertahan untuk tinggal demi menuju negara ini,menekan rasa rindu bertemu ibu,hingga akhirnya karena doa ibu saya bisa menginjakan kaki disini dan Allah berikan pertemuan bersama orang-orang baik yang selalu menganggap saya adiknya hingga anaknya.Diana,Hermine,Fadime,Razhia,Elfira hingga Frau Marga hari ini.Bersama mereka selalu saya rasakan seperti halnya 'rumah' ya 'rumah'.
Sudah memasuki bulan juni ini kelas kami disibukkan dengan latihan soal dan abschlusspruf(semacam ujian akhir materi),namun ditengah ketegangan yang kami rasakan semakin erat hubungan kami dan semakin hangat suasana didalam kelas.Hari ini kelas berjalan seperti biasanya dengan segambreng soal yang bikin saya malah jadi ngantuk,hhaha
sering kali suasana pecah dengan tawaan dan candaan khas kami.ya,saya beruntung bisa mendapatkan teman dengan berbagai latar belakang bahasa dan budaya tetapi waktu mengantarkan kami layaknya seperti keluarga.
Namun,ada yang beda setelah kelas kami selesai,seorang ibu yang juga teman saya belajar dikelas tiba-tiba memberikan saya cokelat khas milka berbentuk hati,scara kaget dong tiba-tiba sweet gini,ia memeluk saya erat,selama ini kami selalu menganggapnya sebagai mama kami dikelas karena ia sangat banyak memberikan inspirasi,di umurnya yang sudah tidak muda lagi,ia masih semangat untuk belajar mengikuti aktifitas kelas dari semester ke semester,ia juga pribadi keibuan yang ramah dan perhatian yang masih aktif juga berolahraga termasuk mendaki dan bersepeda.
Pelukan erat seorang ibu yang jelas saya rindukan sebagai anak rantau saya rasakan saat beliau memeluk erat dan mencium pipi saya,saya lihat jelas matanya berkaca-kaca.Sembari memegang erat tangan saya beliau bercerita tentang rasa rindunya kepada anaknya.Ia hanya setahun sekali bisa berjumpa dengan kedua putrinya.Beliau juga bercerita ketika melihat tingkah polah saya dikelas ia teringat akan anak-anak gadisnya yang juga tinggal jauh dari beliau.Jujur,mendengarnya saja membuat hati saya merinding.Saya jelas teringat ibu saya,karna orang tua akan selalu terlihat tegar didepan anak-anaknya,namun cerita beliau membubarkan semua ketegaran yang selalu saya lihat dari paras kedua orang tua saya.Beliau juga bercerita kerinduannya kepada anak-anaknya dan beliau paham bagaimana rasanya ibu yang ditinggal jauh anak putrinya demi menggapai cita-cita untuk membahagiakannya.Ia juga menasihati saya agar tetap terus aktif dan mempertahankan nilai kemanusiaan,menjaga harga diri wanita sampai mempertahankan nilai disekolah ga lupa beliau juga berpesan untuk selalu ingat Tuhan(walau saya tau beliau tidak memiliki kepercayaan,tapi justru penutup nasihatnya membuat hati saya gemeteran)
Mungkin hanya beberapa pekan lagi kami bisa berkumpul sampai pergantian semester selanjutnya,namun malam ini Allah kasi saya petunjuk dan entah rasa ini yang jelas saya semakin bersyukur,rasanya terenyuh aja di awalan bulan Ramadhan disini memang susah-susah gampang selain durasinya yang panjang,menjaga pandangan juga susah karena sudah memasuki waktu sommer,juga toko-toko dan resto buka sewajarnya sampai teman-teman yang tentunya juga tidak berpuasa membuat saya tak jarang hanya bisa membisu,hhaha
Kejadian dan cerita malam ini membuat saya 'melek' apapun yang kita lakukan,akan dibalasNya dengan cara yang seperti apa yang sudah kita perbuat.Atau ini adalah jawaban dari ibu saya yang sedang merindukan dan tak lelah mendoakan anaknya yang usil ini.hhehe
Sepulang kerumah,waktu sudah menunjukan pukul 22.36 waktunya saya untuk buka,alhamdulillah senangnya bisa menikmati malam sehabis pulang kelas direstoran italy dengan pasta khas ditambah seafood.Bercanda dengan mama sekaligus sahabat dan teman terbaik saya dijerman sebelum tidur,hingga saya sempatkan menulis ini.
Empat tahun menunggu kepastian hingga bertahan untuk tinggal demi menuju negara ini,menekan rasa rindu bertemu ibu,hingga akhirnya karena doa ibu saya bisa menginjakan kaki disini dan Allah berikan pertemuan bersama orang-orang baik yang selalu menganggap saya adiknya hingga anaknya.Diana,Hermine,Fadime,Razhia,Elfira hingga Frau Marga hari ini.Bersama mereka selalu saya rasakan seperti halnya 'rumah' ya 'rumah'.
Sonntag, 21. Juni 2015
Potongan kisah
Mungkin juga pecundang yang takut akan cinta
tak menapik indahnya malam itu
namun bukannya tak mau
ini semua terlihat seakan sulit untuk terjadi
saat jarak yang tak bisa lagi tergapai
mungkin hanya harapan yang terbalut rasa gundah
seperti halnya angin yang bisa datang semaunya
bersamamu terasa indahnya perbedaan
saat isyarat mematahkan segala bahasa
saat tawa memecahkan roman malam
saat tatapan kebahagiaan dan kesedihan kita rasakan di saat yang sama
tak menapik indahnya malam itu
namun bukannya tak mau
ini semua terlihat seakan sulit untuk terjadi
saat jarak yang tak bisa lagi tergapai
mungkin hanya harapan yang terbalut rasa gundah
seperti halnya angin yang bisa datang semaunya
bersamamu terasa indahnya perbedaan
saat isyarat mematahkan segala bahasa
saat tawa memecahkan roman malam
saat tatapan kebahagiaan dan kesedihan kita rasakan di saat yang sama
Mittwoch, 17. Juni 2015
Sepertinya baru kemarin
Sepertinya baru kemarin kaki ini melangkah menuju tempatmu sembari menahan sesak mengingat harapan yang dulu tak ku biarkan lenyap,hari itu pertama kalinya ku bertemu denganmu,sahabatku...
Melihatnya saja banyak hal yang membuat air mata ini rasanya ingin menetes,bahagianya hidup mereka yang bisa dengan 'lancarnya' menuju impian yang selama ini sudah lama kami dambakan
saat mereka tertawa dan belajar,kami hanya bisa meahan menempih rasa ingin belajar seperti yang lainnya,ku berhadapan denganmu bukan seperti hanya hal yang lainnya,bahkan saya sendiri tak tau harus bilang apa akan siapa saya.Lantunan ayat suci Al-Qur'an yang selalu ia bacakan menggores hati menahan kesadaran saya untuk tidur lelap,dibalik tipisnya selimut yang cukup menghangatkan badan saya,hanya runtutan doa yang tak pernah bosan saya panjatkan padaNya.
Ingat sekali pesan seorang wanita yang biasa saya panggil tante Mer,kalau Tuhan akan menghempaskan doa"mu di waktu yang tepat,tahan diri untuk iri walau tidak mudah mengingat impian itu sudah seharusnya menjadi hak kami sedari dulu,namun mintalah padaNya,bertanyalah padaNya kapan giliran untuk saya merasakannya.Siatuasi yang mengikat saya untuk tidak sanggup bercerita pada siapapun dan membiarkan orang lain saja yang melihatnya sendiri.Saya hanya bisa menggantukan harapan padaNya yang memiliki Rencana.
Sepertinya baru kemarin kami tertawa bersama menelusuri jalanan kota Yogyakarta setelah melawan rasa grogi demi mendapatkan pinjaman sebuah sepeda motor dan melahap roti bakar atau sekedar merayu,bercanda demi pizza yang kami makan saat belajar bersama.
Sepertinya baru kemarin kita tertawa pecah saat kita saling mengenal dan menyukai selera kopi yang sama,setiap malam,kopi kita menemani deretan soal yang harus diselesaikan,walau saya harus menahan sakit melihat begitu bahagianya anak ini :)
Sepertinya baru kemarin ia menceritakan semua kekompakan dan rasa rindunya ia akan teman-teman seperjuangannya,cerita cinta bahkan kekonyolan,namun saya hanya bisa menahan sesak melihat kenyataan teman-teman seperjuangan dimasa saya,kita pernah punya cerita seperti mereka,namun sekarang,dimana kita?saya disini mendengarkan cerita yang sama seperti cerita yang pernah kita punya,dimana kalian?jangankan untuk bertatap muka,bahkan sudah setahun saya tak mendengar kabar lagi dari kalian.
Sepertinya baru kemarin kita berdua melewati gang sempit nan gelap menuju Masjid untuk shalat tarawih,iya kan?Dalam sujud semua tumpah,siapa sangka anak yang juga sujud disebelah saya ini sekarang menjadi bagian dalam perjalanan perjuangan saya,hanya saja mungkin saya kurang beruntung :"
Sekarang,setelah setahun,kita ada dibulan yang sama saat kita menulusuri gang sempit setiap malamnya dan menahan kantuk dengan segelas capucino.Doaku terkabul bersamaan dengan pertemuan kita dulu.Kini,kita memang ada dinegara yang menjadi perbincangan kita setiap waktu waktu itu.
Ramadhan datang dengan situasi yang berbeda dan baru.Walau kini kita sudah tak lagi melangkahkan kaki ketujuan yang sama dan berbagi cerita,namun doa setiap sujudku penuh syukur atas semua yang telah kita lewati.Ingin rasanya ku bagi keindahan malam menuju Ramdhan dikota kecil yang menawan ini,ingin rasanya ku pertemukan kau dengan mereka yang menjadi hadiah-hadiah keindahan dari rencanaNya,ingin ku bagi kisah bahagiaku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa,ingin ku kenalkan kau dengan orang-orang yang mencintaiku seperti layaknya keluarganya,ingin ku bagi yufka ini seperti halnya saat kita menyantap lezatnya roti bakar yang pernah kita makan bersama,ingin sekali rasanya kau melihat betapa luar biasa dasyatnya cerita ini,ingin rasanya ku bagi kurma pertamaku di sini,pemberian dari seseorang yang selalu mengingatkanku pada indahnya iman ini,belajar dan berbagi kopi di temani cerita yang kini sudah tak ada yang kusimpan lagi,tak ada yang aku sembunyikan lagi,tak ada lagi rasa ganjal saat ku harus bercerita dan berbagi tawa,tak kan ada air mata dan doa yang kusembunyikan lagi saat kau lantunkan ayat Al-Qur'an setiap malamnya menjelang pagi,kini kutitipkan doa dan salam ku untukmu dalam setiap sujudku yang membuatku rindu indahnya pertemuan itu diawal bulan suci ini,hai sahabat :))*HR
-Germany
Melihatnya saja banyak hal yang membuat air mata ini rasanya ingin menetes,bahagianya hidup mereka yang bisa dengan 'lancarnya' menuju impian yang selama ini sudah lama kami dambakan
saat mereka tertawa dan belajar,kami hanya bisa meahan menempih rasa ingin belajar seperti yang lainnya,ku berhadapan denganmu bukan seperti hanya hal yang lainnya,bahkan saya sendiri tak tau harus bilang apa akan siapa saya.Lantunan ayat suci Al-Qur'an yang selalu ia bacakan menggores hati menahan kesadaran saya untuk tidur lelap,dibalik tipisnya selimut yang cukup menghangatkan badan saya,hanya runtutan doa yang tak pernah bosan saya panjatkan padaNya.
Ingat sekali pesan seorang wanita yang biasa saya panggil tante Mer,kalau Tuhan akan menghempaskan doa"mu di waktu yang tepat,tahan diri untuk iri walau tidak mudah mengingat impian itu sudah seharusnya menjadi hak kami sedari dulu,namun mintalah padaNya,bertanyalah padaNya kapan giliran untuk saya merasakannya.Siatuasi yang mengikat saya untuk tidak sanggup bercerita pada siapapun dan membiarkan orang lain saja yang melihatnya sendiri.Saya hanya bisa menggantukan harapan padaNya yang memiliki Rencana.
Sepertinya baru kemarin kami tertawa bersama menelusuri jalanan kota Yogyakarta setelah melawan rasa grogi demi mendapatkan pinjaman sebuah sepeda motor dan melahap roti bakar atau sekedar merayu,bercanda demi pizza yang kami makan saat belajar bersama.
Sepertinya baru kemarin kita tertawa pecah saat kita saling mengenal dan menyukai selera kopi yang sama,setiap malam,kopi kita menemani deretan soal yang harus diselesaikan,walau saya harus menahan sakit melihat begitu bahagianya anak ini :)
Sepertinya baru kemarin ia menceritakan semua kekompakan dan rasa rindunya ia akan teman-teman seperjuangannya,cerita cinta bahkan kekonyolan,namun saya hanya bisa menahan sesak melihat kenyataan teman-teman seperjuangan dimasa saya,kita pernah punya cerita seperti mereka,namun sekarang,dimana kita?saya disini mendengarkan cerita yang sama seperti cerita yang pernah kita punya,dimana kalian?jangankan untuk bertatap muka,bahkan sudah setahun saya tak mendengar kabar lagi dari kalian.
Sepertinya baru kemarin kita berdua melewati gang sempit nan gelap menuju Masjid untuk shalat tarawih,iya kan?Dalam sujud semua tumpah,siapa sangka anak yang juga sujud disebelah saya ini sekarang menjadi bagian dalam perjalanan perjuangan saya,hanya saja mungkin saya kurang beruntung :"
Sekarang,setelah setahun,kita ada dibulan yang sama saat kita menulusuri gang sempit setiap malamnya dan menahan kantuk dengan segelas capucino.Doaku terkabul bersamaan dengan pertemuan kita dulu.Kini,kita memang ada dinegara yang menjadi perbincangan kita setiap waktu waktu itu.
Ramadhan datang dengan situasi yang berbeda dan baru.Walau kini kita sudah tak lagi melangkahkan kaki ketujuan yang sama dan berbagi cerita,namun doa setiap sujudku penuh syukur atas semua yang telah kita lewati.Ingin rasanya ku bagi keindahan malam menuju Ramdhan dikota kecil yang menawan ini,ingin rasanya ku pertemukan kau dengan mereka yang menjadi hadiah-hadiah keindahan dari rencanaNya,ingin ku bagi kisah bahagiaku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa,ingin ku kenalkan kau dengan orang-orang yang mencintaiku seperti layaknya keluarganya,ingin ku bagi yufka ini seperti halnya saat kita menyantap lezatnya roti bakar yang pernah kita makan bersama,ingin sekali rasanya kau melihat betapa luar biasa dasyatnya cerita ini,ingin rasanya ku bagi kurma pertamaku di sini,pemberian dari seseorang yang selalu mengingatkanku pada indahnya iman ini,belajar dan berbagi kopi di temani cerita yang kini sudah tak ada yang kusimpan lagi,tak ada yang aku sembunyikan lagi,tak ada lagi rasa ganjal saat ku harus bercerita dan berbagi tawa,tak kan ada air mata dan doa yang kusembunyikan lagi saat kau lantunkan ayat Al-Qur'an setiap malamnya menjelang pagi,kini kutitipkan doa dan salam ku untukmu dalam setiap sujudku yang membuatku rindu indahnya pertemuan itu diawal bulan suci ini,hai sahabat :))*HR
-Germany
Sonntag, 31. Mai 2015
Andaian Kita
Hari itu dimana pertama kalinya pandangan kita jatuh dititik yang sama
dalam balutan romantisme janji suci diantara mereka kau memulai perbincangan itu
tertawa bersama layaknya sudah saling mengenal lama
ya itulah kamu yang selalu membawa kebahagiaan untuk siapa yang berada disekitarmu
perbincangan seru kita merambah hingga menjadi balutan hangat diantara keluarga
kami tertawa bersama,berceloteh seakan aku dibawa menjadi bagian keluarga baru yang sebenarnya
hari itu tak kulihat setitikpun hal yang dibuat-buat didalamnya
kau yang selalu bersemangat ceria dan menyenangkan
ternyata juga dewasa,memimpin dan menyayangi
hingga kemarin
telah ku sadar memang ada sesuatu yang datang
untuk tertama kalinya ada yang menyanggah tangan ini
setelah berkali-kali ku dapati jatuhnya pandangan kita dititk yang sama meski akhirnya harusku tundukan pandangan ini
untuk pertama kalinya seorang lelaki memperlakukanku sebagaimana kamu
menunggu mempelai datang lagi-lagi kau torehkan tawa diantara kita
bibir ini tak kuasa berucap
saat kau tawarkan segelas minuman untuk kita habisi berdua
lantunan musik dilantai dansa menjadi latar apa yang terjadi
kau mendatangiku hanya untuk berdansa
sungguh ini pertama kalinya untuk orang yang seperti aku
hingga pagi kini kuharus beranjak dari tempat ini
namun bagaimana aku bisa lupa, mengingat apa yang kau lakukan saat ku berpamitan
hingga kamu akhiri dengan pelukan kuat memutar seirinan lagu di depan kedua orang tuamu
andai ku bisa menolak rasa yang datang
entah kapan kita bisa kembali bersua membuat ku takut kehilangan
dalam balutan romantisme janji suci diantara mereka kau memulai perbincangan itu
tertawa bersama layaknya sudah saling mengenal lama
ya itulah kamu yang selalu membawa kebahagiaan untuk siapa yang berada disekitarmu
perbincangan seru kita merambah hingga menjadi balutan hangat diantara keluarga
kami tertawa bersama,berceloteh seakan aku dibawa menjadi bagian keluarga baru yang sebenarnya
hari itu tak kulihat setitikpun hal yang dibuat-buat didalamnya
kau yang selalu bersemangat ceria dan menyenangkan
ternyata juga dewasa,memimpin dan menyayangi
hingga kemarin
telah ku sadar memang ada sesuatu yang datang
untuk tertama kalinya ada yang menyanggah tangan ini
setelah berkali-kali ku dapati jatuhnya pandangan kita dititk yang sama meski akhirnya harusku tundukan pandangan ini
untuk pertama kalinya seorang lelaki memperlakukanku sebagaimana kamu
menunggu mempelai datang lagi-lagi kau torehkan tawa diantara kita
bibir ini tak kuasa berucap
saat kau tawarkan segelas minuman untuk kita habisi berdua
lantunan musik dilantai dansa menjadi latar apa yang terjadi
kau mendatangiku hanya untuk berdansa
sungguh ini pertama kalinya untuk orang yang seperti aku
hingga pagi kini kuharus beranjak dari tempat ini
namun bagaimana aku bisa lupa, mengingat apa yang kau lakukan saat ku berpamitan
hingga kamu akhiri dengan pelukan kuat memutar seirinan lagu di depan kedua orang tuamu
andai ku bisa menolak rasa yang datang
entah kapan kita bisa kembali bersua membuat ku takut kehilangan
Sonntag, 24. Mai 2015
ini! Salzburg! Austria!
Kutuliskan lagi lembar baru unuk semua perjalanan tentang kesabaran,melangkah,kebersamaan dan perjuangan.
Minggu ini saya berniat mengunjungi teman seperjuangan yang lebih dulu menapaki jejaknya di Jerman.Pagi itu saya bergegas untuk ke salah Satu kota di Jerman yang terkenal mahal dan Allianz Arenanya.Ja,Muenchen.
Setelah sekian tahun lalu mereka selalu menyebut diri saya dengan "siswa Austria" atau juga "siswa negara tujuan Austria" yang dulu saya kira hanya akan sebagai julukan saja karna harus terkubur jauh dalam mimpi.
Minggu ini saya berniat mengunjungi teman seperjuangan yang lebih dulu menapaki jejaknya di Jerman.Pagi itu saya bergegas untuk ke salah Satu kota di Jerman yang terkenal mahal dan Allianz Arenanya.Ja,Muenchen.
Setelah menempuh perjalanan 3jam dari kota saya,saya sempatkan diri berjalan-jalan di Marienplatzt sambil menunggu teman saya menyelesaikan pekerjaannya.Sore harinya saya melanjutkan perjalanan saya di Daerah Taufkirchen,kembali menunggu sembari menyantap Doenner di salah satu kedai ga jauh dari Bahnhof(stasiun).Tak lama kemudian benar saja,handphone saya berbunyi,segera saya merespon dan ternyata via! sembari mengalihkan pandangan k arah pemberhentian Bus saya berlari menghampirinya,bagaimana kami tidak bahagia,3tahun belajar dan menghabiskan waktu bersama untuk meraih impian kita belajar di Negri orang membuat kami seperti saudara bahkan keluarga.
Pelukan hangat yang sedikit membuat haru mengingatkan kami lagi dengan hal-hal yang tak bisa kami lupakan namun memang harus kami ikhlaskan.Diumur yang terbilang muda kami sama-sama melalui proses yang tak pernah kami duga sebelumnya.
Sore itu langkah kami menuju tempat tinggal fia ditemani dengan pemandangan Jerman yang khas sambil sedikit bernostalgia dan berbagi cerita dan pengalaman selama kami tinggal di Jerman.
Tempat tinggal yang khas,juga terdapat tulisan arab yang terpajang dinding dan lukisan" khas rumahan yang ada di Indonesia membuat saya penasaran,ternyata si "ibu kost" yang juga tinggal disana juga berasal dari Indonesia.Beruntung sekali via dipertemukan dengan orang-orang baik.Sembari melepas lelah via mengajak saya untuk makan malam,ia menyiapkan saya makanan khas Indo.ada nasi kuning,'rendang' ala bayern,kerupuk udang dan yang paling khas banget ada ikan asin.cerita-cerita ternyata ibu kost memang berasal dari Bandung yang juga tanah kelahiran saya.Kami meneruskan perbincangan kami hingga ibu(biasa kami menyebutnya) datang dan bergabung bersama kami di meja makan.Banyak hal yang kami ceritakan,celetukkan bahasa sunda juga membuat saya seperti ada di rumah,perbincangan kami berlanjut pada rencana perjalanan saya dan via untuk keesokan harinya. Kebetulan hari itu via juga libur dan kami bisa menghabiskan waktu bersama.
Keesokan harinya saya dan via bergegas meninggalkan kota tersebut bahkan kami berencana untuk meninggalkan jerman walau cuma sehari.Pagi itu kami menaiki kereta menuju Salzburg,Austria.
Selama menempuh perjalanan sekitar 2,5jam kami menyantap sarapan kami dan beberapa bekal yang sengaja kami bawa dari rumah untuk berhemat(maklum,brasa kantong mahasiswa yang terpentok kurs.hha).Segelas kopi panas plus cream juga croisant,bolu dan sweettomato dan mozarela menemani kami menghabiskan waktu di kereta.Kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju centralstasiun yang ada di kota Mozart tersebut.

Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Negara yang awalnya menjadi negara tujuan saya untuk belajar,ya,memang awalnya walau rencana Tuhan berkehendak lain namun rencana demi rencananya tak jarang membuat saya menitihkan air mata dan bersyukur.
Ini akhirnya saya melihat langsung yang dulu pernah ada dalam benak pikiran yang juga menjadi bagian tiap kali presentasi.Seharian kami menghabiskan waktu bersama.Fia yang sudah pernah ke Austria sebelumnya,mengajak saya ke berbagai tempat indah di kota itu.
Disepanjang perjalanan langkah kami,mata kami dimanja dengan bangunan yg berarsitektur detail ala klasik eropa.Saat itu juga pikiran saya sempat melayang mengingat teman seperjuangan yang kini telah bagia dengan jalan dan pilihannya masing-masing.Ya kini saya bersama fia,yang juga menjadi bagian dari yang lainnya.
Alunan musik klasik dari seniman jalanan tak pernah membiarkan telinga kami luput dari lantunan lagu-lagunya.Sepannjang langkah kami,kami juga tak berhenti barbagi tawa,cerita dan pengalaman setelah 3tahun saya tidak bertemu dengan fia,rasanya seperti mimpi kini saya bisa menghabiskan hari di Austria dengannya.

Kami mampir ke kios kecil untuk membeli pernak-pernik khas Salzburg,hingga akhirnya kami berdiri tepat di Rumah kelahiran pemusik klasik yang legendaris,ya.Rumah kelahiran Mozart.setelah sebelumnya kami mengunjungi Mirabell schloss(castle) dan taman bunganya :))
Kami juga memasuki salah satu gereja terbesar yang juga menjadi daya tarik luar biasa di Salzburg.Gereja katolik dengan nuansa klasik yang kental khas Eropa.Dinding dan langit" yang di penuhi dengan ukiran wajah dan malaikat 3dimensi.Lantunan doa khas gereja juga tak pernah terdengar sepi. Ribuan lilin menyala indah di setiap sudutnya.Kami nekat duduk di antara jemaat sambil menikmati suasananya.Kali ini hati saya terenyuh,begitu indah rencanaNya,hingga saya bisa berada di kota ini.Perbedaan dan kuasa yang Allah ciptakan membuat yang saya rasa tak bisa saya ungkapkan dengan kata.Setelah duduk beberapa menit kami memutuskan untuk keluar dan melanjutkan perjalanan kami mendekati Schlossz(castle),di tengah-tengah tenda-tenda yang dipenuhi dengan pernak-pernik khas kota,pandangan saya tertuju pada bola emas yang berada tepat di tengah.Ya.Hari itu banyak yang saya pelajari dan yang saya dapatkan,Banyak tempat lainnya yang tidak bisa saya jabarkan dilaman ini.Yang jelas hari ini membuat saya tercengang akan kuasaNya yang mengijinkan saya menghabiskan waktu bawah pegunungan Alpen.


Setibanya kami kembali ke Jerman,kami menyempatkan diri menghabiskan waktu di Muenchen Castle dan malam harinya ke Allianz Arena hingga kami pulang kembali dan saya harus segera pulang k kota negara bagian sebelah :D
Alunan musik klasik dari seniman jalanan tak pernah membiarkan telinga kami luput dari lantunan lagu-lagunya.Sepannjang langkah kami,kami juga tak berhenti barbagi tawa,cerita dan pengalaman setelah 3tahun saya tidak bertemu dengan fia,rasanya seperti mimpi kini saya bisa menghabiskan hari di Austria dengannya.

Kami mampir ke kios kecil untuk membeli pernak-pernik khas Salzburg,hingga akhirnya kami berdiri tepat di Rumah kelahiran pemusik klasik yang legendaris,ya.Rumah kelahiran Mozart.setelah sebelumnya kami mengunjungi Mirabell schloss(castle) dan taman bunganya :))
Kami juga memasuki salah satu gereja terbesar yang juga menjadi daya tarik luar biasa di Salzburg.Gereja katolik dengan nuansa klasik yang kental khas Eropa.Dinding dan langit" yang di penuhi dengan ukiran wajah dan malaikat 3dimensi.Lantunan doa khas gereja juga tak pernah terdengar sepi. Ribuan lilin menyala indah di setiap sudutnya.Kami nekat duduk di antara jemaat sambil menikmati suasananya.Kali ini hati saya terenyuh,begitu indah rencanaNya,hingga saya bisa berada di kota ini.Perbedaan dan kuasa yang Allah ciptakan membuat yang saya rasa tak bisa saya ungkapkan dengan kata.Setelah duduk beberapa menit kami memutuskan untuk keluar dan melanjutkan perjalanan kami mendekati Schlossz(castle),di tengah-tengah tenda-tenda yang dipenuhi dengan pernak-pernik khas kota,pandangan saya tertuju pada bola emas yang berada tepat di tengah.Ya.Hari itu banyak yang saya pelajari dan yang saya dapatkan,Banyak tempat lainnya yang tidak bisa saya jabarkan dilaman ini.Yang jelas hari ini membuat saya tercengang akan kuasaNya yang mengijinkan saya menghabiskan waktu bawah pegunungan Alpen.


Setibanya kami kembali ke Jerman,kami menyempatkan diri menghabiskan waktu di Muenchen Castle dan malam harinya ke Allianz Arena hingga kami pulang kembali dan saya harus segera pulang k kota negara bagian sebelah :DDienstag, 12. Mai 2015
Mencari alamat rumahNya
Seandainya bisa ku bagi,ingin ku bagi kisah bahagia ini denganmu
ingin ku sampaikan betapa indahnya keajaiban Tuhan yang ia anugrahkan pada diri yang kesepian ini
Sering kusebut tempat tinggalku di sini seperti selubangan kecil yang penuh berkah,ya saya tinggal memang bukan di kota besar di Jerman. Saya tinggal di kota kecil 3 jam dari stuttgart. Tempat yang dikelilingi oleh pegunungan ini yang mengantarkan saya bertemu dengan keluarga-keluarga baru dari berbagai belahan dunia dan tentu saja Jerman.
Sudah setengah tahun saya menghabiskan waktu saya di tempat nan indah ini,tidak sumpek dan jauh dari hirukpikuk bisingnya transportasi. Walau kadang memang kejenuhan dan rasa sendiri sering tiba-tiba saya rasakan,namun dibalik itu semua Tuhan memang sudah menempatkan saya disini dengan tujuan dan hadiah yang tak pernah saya duga.
Dibawah indahnya cuaca hari ini yang ternyata tidak jauh dengan panasnya Indonesia,ku langkahkan kaki kecil ini kembali di tempat ini,satu porsi yuvka babylon gratis ku santap d bangku taman sembari menikmati hangatnya matahari.Ya, bermula saat saya baru saja menikmati hari-hari dijerman dan sering merasa kosong,ada rasa takut semakin jauh dariNya,hari itu saya berusaha mencari masjid terdekat,rasa rindu ingin sekali merasakan shalat jamaah,karna perut terasa lapar,mampirlah saya di sebuah resto kebab-pizza halal ala turki,saya di sambut dengan seorang pria yang cukup ramah, bahkan saat saya menyantap pesanan saya pun kami sempat berbincang cukup lama,tak saya duga beliau adalah pemilik tempat makan halal ini.Ia penuh antusias menceritakan bagaiman kuasa Allah dan terang saja itu semua sangat mempengaruhi semangat saya bertahan.Rasanya bertemu dengan seorang muslim dari negara lain yang sama-sama bertahan sebagai minoritas di negara ini membuat kami layaknya seperti saudara.Saat saya mau bayar pesanan,pria ini menolak dan memberikan saya struk kosong bertuliskan alamat Masjid terdekat,MasyaALLAH saat itu saya hanya bisa menahan air mata begitu hebat dan kuatnya rasa syukur ini merasa tidak sendiri,Amca,biasa saya memanggilnya yang berartikan paman dalam bahasa Turki (tapi gatau tulisan amca yg sebenarnya tu gimana.hha) ia juga berkata,jika saya membutuhkan bantuan ia,istri dan keluarganya siap membantu saya.Saat saya coba bertanya berapa total yang harus bayar,ia hanya senyum kecil dan menjawab "saya sudah bilang,kalau kamu membutuhkan apapun datanglah pada kami,termasuk tentang makanan halal".saya cuma melongo aja heran,amca melanjutkan pembicaraannya dengan "InsyaALLAH saya lakukan ini semua semata mata karna Allah,saya tau betul bagaimana rasanya bertahan sebagai muslim disini,sebagai muslim bukankah kita bersaudara?,sering datang lah pada kami,kami senang,tak usah kamu membayar untuk setiap makanan yang kamu pesan di resto ini seumur hidup.",jujur kata" itu membuat saya merinding,siapa sangka perjalanan lelah mencari rumahNya berujung pada kebaikan seseorang yang sudi melakukan ini semua untuk saya,perjalanan naik turun bukit memang menguras tenaga namun kita memang tidak akan tau catatan indah dari rencanaNya lewat pria dermawan yang ini.Ia juga menitip pesan,sesampainya di Masjid,bilanglah kamu dari amca babylon,disana ada keluarga yang di tunjuk sebagai imam sekaligus menjaga tempat ibadah disana,ia akan memberikanmu perlengkapan shalat dsb.Mata saya hanya tertegun menahan haru mendengarnya,meskipun di tas saya saya memang sudah bawa mukena lengkap namun setiap kalimatnya benar" ikhlas saya rasakan.Hari itu saya hanya bisa mengiakan dan mengucap hamdalah sembari kembali melangkahkan kaki siap menuruni bukit mencari alamat Masjid(lagi).
Setibanya disana,rasa aneh menyelinap di pikiran saya karna alamat yang saya dapati tidah tertera di deretan rumah penduduk yang ada,salah satu penduduk membantu saya,dan ternyata saya semakin dibuat heran saat saya berdiri di depan pintu Masjid yang bertuliskan "Bahnhof"(stasiun kereta api dalam bahasa jerman",dalam hati saya bertanya,sejak kapan tempat ini ada stasiun kereta? kaki kecil saya melangkah menuju lantai teratas,ksaya lihat deretan Al-Qur'an di salah satu ruangan seperti ruang belajar agama,Saya buka pintu satu persatu namun tiada seorangpun yang merespon.Hingga akhirnya di lantai 2 saya mencoba mengetuk pintu tepat di seberang pitu yang beruangan deretan sajadah.Dibukakannya pintu,saya di sambut hangat dengan gadis cantik ala turki,saya hantarkan tujuan saya,benar saja perempuan bernama Kuebra memberikan saya alat shalat lengkap,karena ga enak,saya terima aja wlo di tas saya udah ada mukena.Tak pikr panjang untuk pertama kalinya kusujudkan tubuh ini d antara deretan sajadah di ruangan hening yang membuat saya tenang.Gak lama kemudian perempuan yang saya kenal bernama Kuebra menawarkan saya untuk makan siang dirumahnya(ruang sebelah tempat shalat) dan bertemu dengan keluarganya.Awalnya sih saya malu karena ia benar-benar berusaha mengundang saya untuk datang,sore menjelang siang itu saya duduk diantara keluarga Imam Masjid :" Dimeja makan saya duduk di antara Kuebra(anak pertama dan satu-satunya anak perempuan di keluarga itu) dan Muhammad Ali (anak kedua).Didepan saya seorang ibu yang penuh kehangatan dan ramah juga antusias menyambut kedatangan saya di tengah" makan siang mereka,tak lupa ayah dari mereka yang menjadi imam disana dan bocah kecil yang ganteng dan lincah yang membuat kita selalu tertawa di tengah makan siang kali itu.Sebelum saya berpamitan,si Ibu berbicara bahasa Turki ke anak perempuannya(karena ibu ga bisa ngomong bahasa jerman),Kuebra menyampaikan lagi apa yang ibu katakan,ia bilang,ibu sangat senang jika saya mau memanggilnya Anne(ibu dalam bahasa turki,tapi lagi-lagi saya gatau nulisnya gimana) dan memanggil sang ayah dengan sebutan baba(bapak dalam bahasa turki).Beliau juga bilang,sering seringlah kemari,shalat disini,jika penat tidurlah disini,ini juga rumahmu nak,anggaplah seperti keluarga sendiri.Hingga menutup perjumpaan Anne memeluk saya erat dan berpamitan dengan yang lainnya.Hari itu saya baru tahu,ditempat ini sudah tidak ada stasiun kereta karna,stasiun ini sudah di beli dengan salah satu penduduk turki dan dijadikannya masjid,yang setiap 5tahun sekali ada saja keluarga imam yang meninggalinya.Selama perjalanan pulang menaiki bukit tiada saya rasakan lelah,air mata ini tak tahan untuk menetes ksekian kalinya,Hari itu saya di buat bungkam dengan rencanaNya.rasa syukur tiada henti saya ucapkan hingga kupejamkan mata ini untuk beristirahat.
Kembali ke kenikmatan siang hari sambil menyantap yuvka gratis,hari itu saya di temani oleh sahabat saya dari Indo walau hanya lewat telpon.setelah menghabiskan porsi yuvka untuk makan siang saya lanjutkan kaki ini menuju Bahnhof yang saya sebut Masjid :))
Dari kejauhan Anne dan Ali sedang menikmati indahnya matahari sembari piknik di taman.Bocah kecil bernama Oemer mengayuh sepedanya kencang menyambut kedatangan saya(ini bukan pertama kalinya saya melihat tawa dan senyuman hangat mereka menyambut saya,hingga saat tulisan ini di buar hampir setiap minggu saat saya libur saya sempatkan untuk mengunjungi tempat ini dan bertemu mereka,hingga tak terasa sudah setengah tahun dan mereka menjelma menjadi keluarga muslim saya selama bertahan di Jerman.Oemer mendekap kaki saya erat,berusaha mencium pipi saya dan menggiwing jemari saya ke meja tempat mereka piknik.Hari itu untuk kesekian kalinya ingin rasanya saya bagi keindahn ini untuk orang-orang yang mencintai dan saya cintai.Sudah banyak hal yang mereka lakukan dengan saya ketika saya libur,tak jarang mereka membawa saya jalan-jalan ke luar kota hanya untuk makan atau belanja,entahlah malam ini saya hanya ingin bernostalgia dengan hari itu,dimana islam mengajarkan saya apa itu keindahan sebagai minoritas,Saya sendiri bingung,mungkin nanti akan ada satu tulisan yang menjadi isyarat ingin kubagi untuk kalian...
begitu banyak disini yang menjadikanku sebagai keluarganya,setelah keluarga Didi memberiku kesempatan untuk tetap tinggal bersamanya,kini Allah kirimkanku cerita baru di keluarga yang lainnya.MasyaALLAH :")
ingin ku sampaikan betapa indahnya keajaiban Tuhan yang ia anugrahkan pada diri yang kesepian ini
Sering kusebut tempat tinggalku di sini seperti selubangan kecil yang penuh berkah,ya saya tinggal memang bukan di kota besar di Jerman. Saya tinggal di kota kecil 3 jam dari stuttgart. Tempat yang dikelilingi oleh pegunungan ini yang mengantarkan saya bertemu dengan keluarga-keluarga baru dari berbagai belahan dunia dan tentu saja Jerman.
Sudah setengah tahun saya menghabiskan waktu saya di tempat nan indah ini,tidak sumpek dan jauh dari hirukpikuk bisingnya transportasi. Walau kadang memang kejenuhan dan rasa sendiri sering tiba-tiba saya rasakan,namun dibalik itu semua Tuhan memang sudah menempatkan saya disini dengan tujuan dan hadiah yang tak pernah saya duga.
Dibawah indahnya cuaca hari ini yang ternyata tidak jauh dengan panasnya Indonesia,ku langkahkan kaki kecil ini kembali di tempat ini,satu porsi yuvka babylon gratis ku santap d bangku taman sembari menikmati hangatnya matahari.Ya, bermula saat saya baru saja menikmati hari-hari dijerman dan sering merasa kosong,ada rasa takut semakin jauh dariNya,hari itu saya berusaha mencari masjid terdekat,rasa rindu ingin sekali merasakan shalat jamaah,karna perut terasa lapar,mampirlah saya di sebuah resto kebab-pizza halal ala turki,saya di sambut dengan seorang pria yang cukup ramah, bahkan saat saya menyantap pesanan saya pun kami sempat berbincang cukup lama,tak saya duga beliau adalah pemilik tempat makan halal ini.Ia penuh antusias menceritakan bagaiman kuasa Allah dan terang saja itu semua sangat mempengaruhi semangat saya bertahan.Rasanya bertemu dengan seorang muslim dari negara lain yang sama-sama bertahan sebagai minoritas di negara ini membuat kami layaknya seperti saudara.Saat saya mau bayar pesanan,pria ini menolak dan memberikan saya struk kosong bertuliskan alamat Masjid terdekat,MasyaALLAH saat itu saya hanya bisa menahan air mata begitu hebat dan kuatnya rasa syukur ini merasa tidak sendiri,Amca,biasa saya memanggilnya yang berartikan paman dalam bahasa Turki (tapi gatau tulisan amca yg sebenarnya tu gimana.hha) ia juga berkata,jika saya membutuhkan bantuan ia,istri dan keluarganya siap membantu saya.Saat saya coba bertanya berapa total yang harus bayar,ia hanya senyum kecil dan menjawab "saya sudah bilang,kalau kamu membutuhkan apapun datanglah pada kami,termasuk tentang makanan halal".saya cuma melongo aja heran,amca melanjutkan pembicaraannya dengan "InsyaALLAH saya lakukan ini semua semata mata karna Allah,saya tau betul bagaimana rasanya bertahan sebagai muslim disini,sebagai muslim bukankah kita bersaudara?,sering datang lah pada kami,kami senang,tak usah kamu membayar untuk setiap makanan yang kamu pesan di resto ini seumur hidup.",jujur kata" itu membuat saya merinding,siapa sangka perjalanan lelah mencari rumahNya berujung pada kebaikan seseorang yang sudi melakukan ini semua untuk saya,perjalanan naik turun bukit memang menguras tenaga namun kita memang tidak akan tau catatan indah dari rencanaNya lewat pria dermawan yang ini.Ia juga menitip pesan,sesampainya di Masjid,bilanglah kamu dari amca babylon,disana ada keluarga yang di tunjuk sebagai imam sekaligus menjaga tempat ibadah disana,ia akan memberikanmu perlengkapan shalat dsb.Mata saya hanya tertegun menahan haru mendengarnya,meskipun di tas saya saya memang sudah bawa mukena lengkap namun setiap kalimatnya benar" ikhlas saya rasakan.Hari itu saya hanya bisa mengiakan dan mengucap hamdalah sembari kembali melangkahkan kaki siap menuruni bukit mencari alamat Masjid(lagi).
Setibanya disana,rasa aneh menyelinap di pikiran saya karna alamat yang saya dapati tidah tertera di deretan rumah penduduk yang ada,salah satu penduduk membantu saya,dan ternyata saya semakin dibuat heran saat saya berdiri di depan pintu Masjid yang bertuliskan "Bahnhof"(stasiun kereta api dalam bahasa jerman",dalam hati saya bertanya,sejak kapan tempat ini ada stasiun kereta? kaki kecil saya melangkah menuju lantai teratas,ksaya lihat deretan Al-Qur'an di salah satu ruangan seperti ruang belajar agama,Saya buka pintu satu persatu namun tiada seorangpun yang merespon.Hingga akhirnya di lantai 2 saya mencoba mengetuk pintu tepat di seberang pitu yang beruangan deretan sajadah.Dibukakannya pintu,saya di sambut hangat dengan gadis cantik ala turki,saya hantarkan tujuan saya,benar saja perempuan bernama Kuebra memberikan saya alat shalat lengkap,karena ga enak,saya terima aja wlo di tas saya udah ada mukena.Tak pikr panjang untuk pertama kalinya kusujudkan tubuh ini d antara deretan sajadah di ruangan hening yang membuat saya tenang.Gak lama kemudian perempuan yang saya kenal bernama Kuebra menawarkan saya untuk makan siang dirumahnya(ruang sebelah tempat shalat) dan bertemu dengan keluarganya.Awalnya sih saya malu karena ia benar-benar berusaha mengundang saya untuk datang,sore menjelang siang itu saya duduk diantara keluarga Imam Masjid :" Dimeja makan saya duduk di antara Kuebra(anak pertama dan satu-satunya anak perempuan di keluarga itu) dan Muhammad Ali (anak kedua).Didepan saya seorang ibu yang penuh kehangatan dan ramah juga antusias menyambut kedatangan saya di tengah" makan siang mereka,tak lupa ayah dari mereka yang menjadi imam disana dan bocah kecil yang ganteng dan lincah yang membuat kita selalu tertawa di tengah makan siang kali itu.Sebelum saya berpamitan,si Ibu berbicara bahasa Turki ke anak perempuannya(karena ibu ga bisa ngomong bahasa jerman),Kuebra menyampaikan lagi apa yang ibu katakan,ia bilang,ibu sangat senang jika saya mau memanggilnya Anne(ibu dalam bahasa turki,tapi lagi-lagi saya gatau nulisnya gimana) dan memanggil sang ayah dengan sebutan baba(bapak dalam bahasa turki).Beliau juga bilang,sering seringlah kemari,shalat disini,jika penat tidurlah disini,ini juga rumahmu nak,anggaplah seperti keluarga sendiri.Hingga menutup perjumpaan Anne memeluk saya erat dan berpamitan dengan yang lainnya.Hari itu saya baru tahu,ditempat ini sudah tidak ada stasiun kereta karna,stasiun ini sudah di beli dengan salah satu penduduk turki dan dijadikannya masjid,yang setiap 5tahun sekali ada saja keluarga imam yang meninggalinya.Selama perjalanan pulang menaiki bukit tiada saya rasakan lelah,air mata ini tak tahan untuk menetes ksekian kalinya,Hari itu saya di buat bungkam dengan rencanaNya.rasa syukur tiada henti saya ucapkan hingga kupejamkan mata ini untuk beristirahat.
Kembali ke kenikmatan siang hari sambil menyantap yuvka gratis,hari itu saya di temani oleh sahabat saya dari Indo walau hanya lewat telpon.setelah menghabiskan porsi yuvka untuk makan siang saya lanjutkan kaki ini menuju Bahnhof yang saya sebut Masjid :))
Dari kejauhan Anne dan Ali sedang menikmati indahnya matahari sembari piknik di taman.Bocah kecil bernama Oemer mengayuh sepedanya kencang menyambut kedatangan saya(ini bukan pertama kalinya saya melihat tawa dan senyuman hangat mereka menyambut saya,hingga saat tulisan ini di buar hampir setiap minggu saat saya libur saya sempatkan untuk mengunjungi tempat ini dan bertemu mereka,hingga tak terasa sudah setengah tahun dan mereka menjelma menjadi keluarga muslim saya selama bertahan di Jerman.Oemer mendekap kaki saya erat,berusaha mencium pipi saya dan menggiwing jemari saya ke meja tempat mereka piknik.Hari itu untuk kesekian kalinya ingin rasanya saya bagi keindahn ini untuk orang-orang yang mencintai dan saya cintai.Sudah banyak hal yang mereka lakukan dengan saya ketika saya libur,tak jarang mereka membawa saya jalan-jalan ke luar kota hanya untuk makan atau belanja,entahlah malam ini saya hanya ingin bernostalgia dengan hari itu,dimana islam mengajarkan saya apa itu keindahan sebagai minoritas,Saya sendiri bingung,mungkin nanti akan ada satu tulisan yang menjadi isyarat ingin kubagi untuk kalian...
begitu banyak disini yang menjadikanku sebagai keluarganya,setelah keluarga Didi memberiku kesempatan untuk tetap tinggal bersamanya,kini Allah kirimkanku cerita baru di keluarga yang lainnya.MasyaALLAH :")
Montag, 11. Mai 2015
Kembali,meski jatuh berkali-kali
Tulisan ini dimulai saat saya iseng chat ama salah satu kaka yang juga tinggal di Jerman di negara bagian yang berbeda,saya biasa mengenalinya dengan nama Sara yang sekarang ini menjalani hari-harinya di Hamburg.
Seperti biasa kalo dah jam malam mata pasti gatel banget buat baca-baca,baru pertama buka blog kaka yang satu ini,saya langsung tertarik dengan kalimat "Saya kembali meski jatuh berkali-kali" judul ini luar biasa mengingatkan saya kembali dengan langkah-langkah yang selama ini cukup membuat saya 'gila'.hhahahahaa
Terang saja saya katakan judul ini pas untuk kami yang memang pernah mencoba bertahan ditengah krisis mental yang sudah merambat kemana-mana bertahun-tahun,namun tak biarkan sedikitpun merusak apa yang menjadi bagian dari masa muda kami.
Seorang teman yang kini sudah menikmati hari-hari luar biasanya di salah satu kota terbesar di Jerman memberikan analogi sederhana tentang kebersamaan dan pencapaian kita yang ujungnya adalah perjalanan yang jusru bisa menjadi lubang besar kalau kita tidak terus bertahan dan kuat.
Berawal dari sekumpulan anak muda yang memiliki satu tujuan,di pertemukan lagi dengan yang baru,hingga seleksi alam menjawab runtutan kejadian yang membuat kami semakin bungkam akan kenyataan namun tak ingin membiarkan mimpi kita menjadi abu asap yang berlalu begitu saja.
karna Nya kini kami kembali setelah jatuh berkali-kali...
kami paham apa yang sebenarnya menjadi tujuan kami walau masih ada diantara kami yang memang bahagia dengan jalannya sendiri,Allah memang mengganti apa yang kami inginkan dengan hal yang kami butuhkan,begitu rasa sakit akibat di dzolimi membuat kami belajar ikhlas memaafkan namun terus bergerak demi ini semua.
Saat menduduki bangku kuliah di Indonesia,adakah dari bocah-bocah itu yang tau ada segelintir orang yg sudah mengeluarkan banyak uang,berjuang mati-matian,namun harus berbesar hati hanya berujung bangku kuliah dan duduk di samping mereka meskipun mereka sudah menukarnya dengan hal termahal di dunia,yang saya sebut waktu.Sudah jelas kami melangkah masa depan dan impian di depan mata seperti sudah menginjak angka 9 namun harus rela kembali menjamak angka 1 dengan jalan yang berbeda.Disisi lain apa mereka sadar ada orang di luar sana yang merindukan satu tempat saja dan menyandang status sebagai Mahasiswa/i.Sisi lain inilah yang menurut saya membuat segelintir dari kami kuat menjalan hari-hari barunya tanpa lagi mengeluh ala bocah yang lainnya.
Ada lagi yang akhirnya berhasil terbang ke negri impian namun dengan caranya sendiri,kembali belajar dan rela menjadikan level bahasa tertingginya adalah bayangan.Menjupiti sekecil apapun kemungkinan dan ikhlas menahan apa yang menjadi mimpinya (di negri ini) beberapa saat demi mencari dan melanjutkan menimba pengalaman hidup.
Dan yang lainnya yang kini mancapai apa yang sesungguhnya di impikan semua di antara kami,Yang hinga kini kuat walau mereka sendiri merasa menjadi asa untuk satu kata kelulusannya.
Kami ahkirnya kembali setelah terjatuh berkali-kali,kembali melangkah lagi dan menikmati jatuh untuk kedalaman yang berbeda kini.
kami akhirnya kembali dipertemukan di negara impian kami walau kami sudah tak sama seperti dulu lagi
kami yang sudah jatuh berkali-kali yang akhirnya kembali lagi menata apa yang selama ini menjadi kesungguhan langkah-langkah kami.Untuk mendapat gelar di fakultas yang menjadi mimpi dan tujuan manusia yang lainnya d luar sana meski harus tetap tinggal,bahkan ada yang Allah ganti kebiruannya waktu ia mencuri waktu keluar-masuk univ demi mencari obat sebenarnya dari mimpinya dengan uang milyaran rupiah yang ia bisa gunakan untuk pendidikannya (Allahuakbar),Untuk mendapati dan mensyukuri nikmat hidup di negri orang dan Allah bukakan satu persatu di leburkannya doa lebih dari yang ia bayangkan,mempelajari lebih dalam tentang kultur dan kebiasaan-kebiasaan serta budaya baru atau yang terakhir yang lagi-lagi menjadi mimpi dari kami semua,yang berhasil menapakinya dan Allah pertemukan mereka dengan orang-orang baik yang selalu menyemangati satu sama lain untuk memepertahankan studinya di negri jauh ini.
Ini lah kami,kami yang terjatuh berkali-kali namun akan tetap kembali,
meski jatuh berkali-kali,kami harus kembali!
meski jatuh berkali-kali,kami harus kembali!
belum berakhir..................
Samstag, 9. Mai 2015
Reuni Expres Eiji-Ency :P
Malam hari ini sengaja ku tuliskan cerita lama yang pernah menjadi bagian dari ini semua. Bukan tentang senasib,namun tentang yang lainnya.
bisa bayangin dong gimana dua mantan penyiar heboh ini reunian via telpon? ya,saya dulu pernah menggeluti dunia hiburan selama 5 tahun yang akhirnya harus saya lepas demi cita-cita saya untuk menimba ilmu di Eropa.
Sore hari ini hp saya tiba-tiba mendapat telpon dari salah satu adik tingkat (yanna) ga kaya biasanya dia telpon,tapi karna sikon lagi ga pas saya ga sempet tuh respon telponnya. Baru malam hari ini sebelum saya pergi ke kamar saya mencoba balik telpon tu anak.hha
Heboh banget suara dibelakang yanna,saking keselnya yanna nyeploslah ini ayu,blablabla bukan cowook!! ehh ternyata salah satu suara dibelakang emang ada yg kepoin hape yanna, gatau deh gimana ceritanya yang jelas telpon ini udah ga ksambung ama yanna,udah ga asing aja denger suaranya,apalagi dia manggil nama saya dengan nama onair yang dulu sudah menjadi bagian dari hidup saya dengan orang-orang sekitar.tapii pe-er nya ini di Jerman men,mana ada yang tau nama onair saya beberapa tahun silam...dan buset dah ternyata yang heboh dibelakang tadi n yang sekarang lagi jabanin telpon ama saya adalah salah satu partner siaran saya dulu waktu kami masih berada di Indonesia (jaman sekolah SMA,kita kan sudah mengudara.hha :P)
Saya dan ency ketemu sekitar 7tahun lalu disalah satu radio di kota kami berasal.Kali itu ency lagi jabanin interview pas di jam onair saya,nahhh sayangnya ga lama dari situ saya terpaksa off karena harus menjalani praktikum di luar kota selama 6 bulan. Setiap kali ada kesempatan untuk pulang saya hanya bisa mendengarkan suara si ency itu di season kami,Ya kali itu ia dan kakaknya menggantikan posisi saya disalah satu radio musik anak muda dikota kami.
Hingga akhirnya kami dipertemukan lagi disalah satu lembaga pendidikan,kali itu ency yang notabene senior dlm bhasa jerman udah prepare brangkat aja ngacrit ke Jerman.
Sedangkan saya...............yahhh jungkir balik pindah negara tujuan sampe akhirnya balik lagi ke Jerman.
Malam hari ini jelas kehebohan yang dulu pernah kita buat kembali pecah walau hanya via telpon. Terang-terangan si ency ngakak jingkrak-jingkrak teriak,hhaha itu juga yang mungkin barusan saya lakukan.Setelah lama 'sepi hiburan' ga ada yang namanya ngegeje,malam ini semua pecah.Untungnya kota kami tidak begitu jauh. Entah apa yang akan terjadi kalau kami bisa kembali bertemu di Negara ini. Scara ibunya ency guru saya jaman SMA,kakaknya jelas partner siaran bahkan kami juga sempat menjadi partner disalah satu kantor di Jakarta,kakak tertuanya sudah saya anggap sebagai 'bapak' yang juga pernah berperan penting dalam perjalanan saya hingga bisa sampai negara ini. paketan lahh.hhaha
Karakter kami yang mungkin ga beda jauh yang bikin ngerasa klop aja,bisa gila segila gilanya gokil konyol yang jelas ga da tuh yang namanya stres apalagi galau.hhaha
saya sendiri ga bisa jabarin cerita kami,mungkin kami juga bisa bertemu dengan yang lainnya.Ini luar biasa saat kami bisa tersenyum menikmati proses dalam pencapaian bertemu di negara lain dengan suasana baru setelah 7tahun lalu kami masih jadi anak bawang dengan seragam SMA.hhaha
Abonnieren
Kommentare (Atom)






























.jpg)