Seandainya bisa ku bagi,ingin ku bagi kisah bahagia ini denganmu
ingin ku sampaikan betapa indahnya keajaiban Tuhan yang ia anugrahkan pada diri yang kesepian ini
Sering kusebut tempat tinggalku di sini seperti selubangan kecil yang penuh berkah,ya saya tinggal memang bukan di kota besar di Jerman. Saya tinggal di kota kecil 3 jam dari stuttgart. Tempat yang dikelilingi oleh pegunungan ini yang mengantarkan saya bertemu dengan keluarga-keluarga baru dari berbagai belahan dunia dan tentu saja Jerman.
Sudah setengah tahun saya menghabiskan waktu saya di tempat nan indah ini,tidak sumpek dan jauh dari hirukpikuk bisingnya transportasi. Walau kadang memang kejenuhan dan rasa sendiri sering tiba-tiba saya rasakan,namun dibalik itu semua Tuhan memang sudah menempatkan saya disini dengan tujuan dan hadiah yang tak pernah saya duga.
Dibawah indahnya cuaca hari ini yang ternyata tidak jauh dengan panasnya Indonesia,ku langkahkan kaki kecil ini kembali di tempat ini,satu porsi yuvka babylon gratis ku santap d bangku taman sembari menikmati hangatnya matahari.Ya, bermula saat saya baru saja menikmati hari-hari dijerman dan sering merasa kosong,ada rasa takut semakin jauh dariNya,hari itu saya berusaha mencari masjid terdekat,rasa rindu ingin sekali merasakan shalat jamaah,karna perut terasa lapar,mampirlah saya di sebuah resto kebab-pizza halal ala turki,saya di sambut dengan seorang pria yang cukup ramah, bahkan saat saya menyantap pesanan saya pun kami sempat berbincang cukup lama,tak saya duga beliau adalah pemilik tempat makan halal ini.Ia penuh antusias menceritakan bagaiman kuasa Allah dan terang saja itu semua sangat mempengaruhi semangat saya bertahan.Rasanya bertemu dengan seorang muslim dari negara lain yang sama-sama bertahan sebagai minoritas di negara ini membuat kami layaknya seperti saudara.Saat saya mau bayar pesanan,pria ini menolak dan memberikan saya struk kosong bertuliskan alamat Masjid terdekat,MasyaALLAH saat itu saya hanya bisa menahan air mata begitu hebat dan kuatnya rasa syukur ini merasa tidak sendiri,Amca,biasa saya memanggilnya yang berartikan paman dalam bahasa Turki (tapi gatau tulisan amca yg sebenarnya tu gimana.hha) ia juga berkata,jika saya membutuhkan bantuan ia,istri dan keluarganya siap membantu saya.Saat saya coba bertanya berapa total yang harus bayar,ia hanya senyum kecil dan menjawab "saya sudah bilang,kalau kamu membutuhkan apapun datanglah pada kami,termasuk tentang makanan halal".saya cuma melongo aja heran,amca melanjutkan pembicaraannya dengan "InsyaALLAH saya lakukan ini semua semata mata karna Allah,saya tau betul bagaimana rasanya bertahan sebagai muslim disini,sebagai muslim bukankah kita bersaudara?,sering datang lah pada kami,kami senang,tak usah kamu membayar untuk setiap makanan yang kamu pesan di resto ini seumur hidup.",jujur kata" itu membuat saya merinding,siapa sangka perjalanan lelah mencari rumahNya berujung pada kebaikan seseorang yang sudi melakukan ini semua untuk saya,perjalanan naik turun bukit memang menguras tenaga namun kita memang tidak akan tau catatan indah dari rencanaNya lewat pria dermawan yang ini.Ia juga menitip pesan,sesampainya di Masjid,bilanglah kamu dari amca babylon,disana ada keluarga yang di tunjuk sebagai imam sekaligus menjaga tempat ibadah disana,ia akan memberikanmu perlengkapan shalat dsb.Mata saya hanya tertegun menahan haru mendengarnya,meskipun di tas saya saya memang sudah bawa mukena lengkap namun setiap kalimatnya benar" ikhlas saya rasakan.Hari itu saya hanya bisa mengiakan dan mengucap hamdalah sembari kembali melangkahkan kaki siap menuruni bukit mencari alamat Masjid(lagi).
Setibanya disana,rasa aneh menyelinap di pikiran saya karna alamat yang saya dapati tidah tertera di deretan rumah penduduk yang ada,salah satu penduduk membantu saya,dan ternyata saya semakin dibuat heran saat saya berdiri di depan pintu Masjid yang bertuliskan "Bahnhof"(stasiun kereta api dalam bahasa jerman",dalam hati saya bertanya,sejak kapan tempat ini ada stasiun kereta? kaki kecil saya melangkah menuju lantai teratas,ksaya lihat deretan Al-Qur'an di salah satu ruangan seperti ruang belajar agama,Saya buka pintu satu persatu namun tiada seorangpun yang merespon.Hingga akhirnya di lantai 2 saya mencoba mengetuk pintu tepat di seberang pitu yang beruangan deretan sajadah.Dibukakannya pintu,saya di sambut hangat dengan gadis cantik ala turki,saya hantarkan tujuan saya,benar saja perempuan bernama Kuebra memberikan saya alat shalat lengkap,karena ga enak,saya terima aja wlo di tas saya udah ada mukena.Tak pikr panjang untuk pertama kalinya kusujudkan tubuh ini d antara deretan sajadah di ruangan hening yang membuat saya tenang.Gak lama kemudian perempuan yang saya kenal bernama Kuebra menawarkan saya untuk makan siang dirumahnya(ruang sebelah tempat shalat) dan bertemu dengan keluarganya.Awalnya sih saya malu karena ia benar-benar berusaha mengundang saya untuk datang,sore menjelang siang itu saya duduk diantara keluarga Imam Masjid :" Dimeja makan saya duduk di antara Kuebra(anak pertama dan satu-satunya anak perempuan di keluarga itu) dan Muhammad Ali (anak kedua).Didepan saya seorang ibu yang penuh kehangatan dan ramah juga antusias menyambut kedatangan saya di tengah" makan siang mereka,tak lupa ayah dari mereka yang menjadi imam disana dan bocah kecil yang ganteng dan lincah yang membuat kita selalu tertawa di tengah makan siang kali itu.Sebelum saya berpamitan,si Ibu berbicara bahasa Turki ke anak perempuannya(karena ibu ga bisa ngomong bahasa jerman),Kuebra menyampaikan lagi apa yang ibu katakan,ia bilang,ibu sangat senang jika saya mau memanggilnya Anne(ibu dalam bahasa turki,tapi lagi-lagi saya gatau nulisnya gimana) dan memanggil sang ayah dengan sebutan baba(bapak dalam bahasa turki).Beliau juga bilang,sering seringlah kemari,shalat disini,jika penat tidurlah disini,ini juga rumahmu nak,anggaplah seperti keluarga sendiri.Hingga menutup perjumpaan Anne memeluk saya erat dan berpamitan dengan yang lainnya.Hari itu saya baru tahu,ditempat ini sudah tidak ada stasiun kereta karna,stasiun ini sudah di beli dengan salah satu penduduk turki dan dijadikannya masjid,yang setiap 5tahun sekali ada saja keluarga imam yang meninggalinya.Selama perjalanan pulang menaiki bukit tiada saya rasakan lelah,air mata ini tak tahan untuk menetes ksekian kalinya,Hari itu saya di buat bungkam dengan rencanaNya.rasa syukur tiada henti saya ucapkan hingga kupejamkan mata ini untuk beristirahat.
Kembali ke kenikmatan siang hari sambil menyantap yuvka gratis,hari itu saya di temani oleh sahabat saya dari Indo walau hanya lewat telpon.setelah menghabiskan porsi yuvka untuk makan siang saya lanjutkan kaki ini menuju Bahnhof yang saya sebut Masjid :))
Dari kejauhan Anne dan Ali sedang menikmati indahnya matahari sembari piknik di taman.Bocah kecil bernama Oemer mengayuh sepedanya kencang menyambut kedatangan saya(ini bukan pertama kalinya saya melihat tawa dan senyuman hangat mereka menyambut saya,hingga saat tulisan ini di buar hampir setiap minggu saat saya libur saya sempatkan untuk mengunjungi tempat ini dan bertemu mereka,hingga tak terasa sudah setengah tahun dan mereka menjelma menjadi keluarga muslim saya selama bertahan di Jerman.Oemer mendekap kaki saya erat,berusaha mencium pipi saya dan menggiwing jemari saya ke meja tempat mereka piknik.Hari itu untuk kesekian kalinya ingin rasanya saya bagi keindahn ini untuk orang-orang yang mencintai dan saya cintai.Sudah banyak hal yang mereka lakukan dengan saya ketika saya libur,tak jarang mereka membawa saya jalan-jalan ke luar kota hanya untuk makan atau belanja,entahlah malam ini saya hanya ingin bernostalgia dengan hari itu,dimana islam mengajarkan saya apa itu keindahan sebagai minoritas,Saya sendiri bingung,mungkin nanti akan ada satu tulisan yang menjadi isyarat ingin kubagi untuk kalian...
begitu banyak disini yang menjadikanku sebagai keluarganya,setelah keluarga Didi memberiku kesempatan untuk tetap tinggal bersamanya,kini Allah kirimkanku cerita baru di keluarga yang lainnya.MasyaALLAH :")
Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen