Dienstag, 14. April 2015

Kita Kaya!

Dibawah langit biru menghias musim semi ku tuliskan ini ditemani sejuknya udara pagi dan secangkir capucino :)
Tepat lima bulan saya menjajaki langkah lembaran baru hidup saya di Negara Hitler ini, Perjalananan yang memeberikan saya banyak pengalaman dan mendapat hadiah yang tidak terpikirkan. Lima bulan rasanya berlalu begitu cepat mengingat umur visa yang sudah berkurang hampir setengah tahun.
Bertemu, berbincang dengan orang yang nampak asing namun merangkul seperti layaknya sebuah keluarga mengingatkan saya untuk terus bersyukur mengingat perjalan yang saya tempuh menuju negara ini sangat tidak mudah.
Memang tak ada hidup yang sempurna namun sejauh ini semuanya bener-bener bikin mata dan hati ini 'melek'. Keterbukaan dalam menerima perbedaan kultur serta kebiasaan, menambah wawasan saat berbagi cerita dengan mereka,belajar apa itu arti dari sebuah perjalanan,perbedaan bahasa.

Tak jarang muncul banyak pertanyaan mereka yang bikin saya bingung juga jelasinnya,kadang lucu tapi ga jarang juga bikin saya jumpalitan ngejawabnya.
Saya juga bertemu dengan beberapa orang yang mengenal Negara Indonesia bahkan mereka akan semangat berbincang mengenai indahnya Indonesia. Jujur,miris dengernya saat mereka memuji indah dan kayanya Negara Indonesia,justru banyak orang Indonesia yang mengeluh akan keadaan negaranya bahkan tega merusaknya.
Kata siapa orang jerman egois,cuek dan individual.Nyatanya setiap pagi sapaan selamat pagi dan selamat sarapan selalu saya dengar,pertanyaan "alles ok?" menggambarkan kepedulian dan perhatiannya walau kadang kami baru saling kenal,ucapan selamat tidur menjadi makanan sehari-hari sebelum memejamkan mata,sapaan halo saat berpapasan bahkan dengan orang yang tidak kami kenal menjadi hal yang biasa bahkan senyum dan menganggukkan kepalapun saya temukan disini.
Gereget? iya! Saat saya mengingat Negara tercinta yang terkenal dengan keramahtamahannya justru dirusak oleh mereka sendiri.Senyuman yang di anggap "caper", pertanyaan yang sebenarnya menjadi bentuk perhatiian di bilang "kepo",kontak mata sebagai sapaan isyarat dibilang "sksd".
Indonesia.Rasa cinta ini semakin tumbuh saat saya meninggalkannya.Prihatin membaca kabar berita yang terjadi disana.Mereka yang tidak memiliki negara ini sibuk memuji dan memuja,namun orang-orang yang masih menginjakkan kaki dan hidup di tanah Ibu Pertiwi justru sibuk saling memaki dan menghujat,sibuk dengan harta pribadinya bahkan tega merenggut kekayaan negaranya untuk kepentingan pribadi.

Saat semuanya berlomba mendapatkan gelar namun lupa akan norma,kejujuran semakin mahal dan semakin langka ditemukan.Sedangkan kami yang disini bukan berarti kami selalu senang,kami hanya mencoba untuk mempertegas diri mengambil resiko demi pengalaman dan pendewasaan diri yang nantinya bisa kami terapkan di Negara tercinta kami.
Kami belajar,bukan materi yang menjadikan seseorang sukses,saat yang lain menilai kesuksesan dari materi,disini kami belajar bahagia dan rasa syukurlah yang menjadikan kita sukses.Bukankah kita memiliki Tuhan yang hidup dibawah pembelajaran agama? 
Kita Kaya! Dibawah langit dan berpijak pada tanah yang subur dan keindahan alamnya :)
Semua memang tergantung orangnya,namun,orang yang ada didalamnya lah yang menjadi cerminan di halaman lainnya di luar sana...............






Keine Kommentare:

Kommentar veröffentlichen